Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi
Judul : Konsep Adab Syed
Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya
Penulis : Dr. Muhammad Ardiansyah
Editor : Dr. Adian Husaini
Penerbit : Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa Depok
Jumlah Halaman : 300
Halaman
Biografi Intelektual Syed
Muhammad Naquib al-Attas
1.
Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan
Syed Muhammad
Naquib al-Attas adalah seorang pemikir dan ilmuan besar kelahiran Bogor, 5
September 1931. Ayahnya Bernama Ali. Sedangkan kakeknya Bernama al-Habib
Abdullah ibn Muhsin al-Attas. Seorang ulama besar di Bogor yang sangat besar
pengaruhnya di Indonesia.
Banyak
kata-kata hikmah al-Habib Abdullah salah satunya adalah : “Ilmu itu ada dua
macam. Pertama, ilmu yang tertanam di hati, itulah ilmu yang bermanfaat. Kedua,
ilmu yang hanya di lisan, itulah ilmu yang akan menjadi argument yang akan
memberatkan si hamba”. Inti pesannya adalah agar ilmu tidak terbatas diucapkan
atau dihapalkan, tapi harus diamalkan. Ilmu tanpa pengalaman hayna akan
memberatkan seseorang di akhirat. Sedangkan ilmu yang bermanfaat akan membuat
seseorang semakin dekat dengan Allah swt.
Al-Habib
Abdullah ibn Muhsin adalah tokoh terkenal dan seorang yang sangat dihormati.
Kakeknya ini wafat di tahun 1933. Ketika itu Syed Muhammad Naquib al-Attas
masih berusia dua tahun. Beliau belum sempat belajar ilmu langsung dengan
kakeknya. Namun, ada cerita populer di kalangan habaib, bahwa kakeknya pernah
berkata kepada ayah al-Attas, bahwa cucunya ini akan menjadi orang hebat yang
disegani. Syed Muhammad Naquib al-Attas akhirnya menjadi tokoh besar dalam
dunia pemikiran Islam kontemporer.
Sedangkan ibunya bernama Syarifah Raquan al-Aydarus. Beliau
merupakan keturunan ningrat di daerah sunda. Diantara kakek moyangnya dari
jalur ibunya ini juga ada yng menjadi ulama besar. Yaitu Syed Muhammad
al-Aydarus. Dia adalah pembibing spiritual Syed Abu Hafs Umar ba Shaiban dari
Hadramaut yang berperan membawa ulama terkemuka Melayu.
Melihat
garis keturunan ini, bisa dikatakan bahwa Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir
dari keluarga yang berpendidikan. Besar kemungkinan keluarganya di Bogor yang
berperan utama dalam membentuk pribadi al-Attas dengan dasar-dasar Pendidikan
yang baik. Kecintaan kepada adab dan ilmu yang sudah ditanamkan sejak kecil
hingga tumbuh sampai dewasa.
Ketika usia lima tahun al-Attas
diantar ke Johor untuk belajar di Sekolah rendah Ngee Heng (1936-1941). Dari
keluarganya di Johor ini al-Attas mendapatkan pelajaran dasar-dasar Bahasa,
sastra dan kebudayaan Melayu. Lalu pada tahun 194101945 al-Attas Kembali ke
Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah al-Urwat al-Wutsqa di
Sukabumi. Disini al-Attas mempelajari Bahasa Arab. Lali pada tahun 1946
al-Attas Kembali ke Johor untuk melanjutkan Pendidikan di Bukit Zahrah,
kemudian di English Collage.
Mengisi masa mudanya di Johor kali ini, al-Attas banyak menghabiskan
waktu dengan membaca dan mendalami manuskrip-manuskrip, khususnya di bidang
sejarah, kesusasteraan dan agama. Selain itu, al-Attas biasa membaca karya
klasik Barat berbahasa Inggris yang terdapat koleksi keluarganya yang lain.
Selain bidang keilmuan, al-Attas juga pernah mengikuti program wajib
militer. Pertama di Eton Hall, Shester, Wales. Kemudian di Royal Military
Academy, Sandhurst, Inggris (1951-1955). Ketika di Sandhurst ini al-Attas
berkenalan dan bersahabat dengan peserta dari negara lain, salah satunya Syarif
Zaid ibn Syakir, keponakan Raja Husein dari Yordania. Ditempat ini juga
al-Attas pertama kalinya berkenalan dengan pandangan metafisika tasawuf.
Pendidikan tinggi al-Attas dimulai dari Universiti Malaya Singapura
pada tahun 1857-1959. Di peringkat sarjana muda al-Attas telah menulis dua buah
buku.Pertama Rangkaian Rubayyat.
Kedua Some Aspect Of Sufism As Understood and Practised among
the Malays. Dari bukunya yang kedua ini,Al-Attas mendapat beasiswa selama
tiga tahun dari kerjaan Kanada untuk belajar di Institute of Islamic Studies,Montreal.
Disinilah al-Attas berkenalan dengan banyak sarjana terkenal Fazlur
Rahman(Pakistan), Seyyed Hossein (Iran) dan HR Gibb (Britain). Lalu pada 1962
al-Attas berhasil meraih gelar M.A dalam bidang Filsafat Islam dengan nilai cumlaude setelah menulis tesis yang
berjudul Raniri and the Wujidiyah Of
17th Century Aceh.
Pendidikan tingginya
berlanjut di Scooh Of Oriental and African Studies (SOAS), London
University.Pada tahun 1965 al-Attas berhasil menyelesaikan studinya setelah disertainya karya yang berjudul The
Mystichim of Hamzah fansuri (jilid2) lulus dengan predikat cumlaude.
Dilihat dari riwayat
pendidikannya al-Attas sudah disiapkan untuk menjadi ilmuwan oleh keluarganya
sejak dini. Perkenalannya dengan sejarah, sastra dan agama di usia muda cukup membekalinya untuk pengembaraan
intelektualnya lebih jauh. Selain itu perhatiannya terhadap aspek kedisiplinan
bisa jadi lebih tertanam setelah
al-Attas mengikuti Pendidikan militer. Begitulah al-Attas, sejak mudanya telah
belaja rmenjadi sosok yang disiplin secara fisik ,mental dan spiritual
.Dengan kata lain al-Attas telah
menjalani Pendidikan yang baik untuk menjadi manusia yang beradab jiwa dan
raga.
Tidak hanya coba memahami dan
mengamalkan adab atau disiplin diri itu untuk pribadi,al-Attas juga sudah
berani menulis karya ilmiah yang
berbobot di tingkat sarjana mudanya.Dengan karyanya kemudian mengantarkan
beliau mengembara lebih jauh ke barat untuk melanjutkan studinya. Perkenalannya
dengan tokoh-tokoh ilmuwan dan orientalis semakin memperlua swawasan
keilmuannya dan juga cara pandangnya. Al-Attas memiliki prinsip yang kuat
ditengah ramainya pemikiran tokoh tersebut. Al-Attas mampu membuka diri dalam
pergaulan intelektual yang beragam sekaligus mampu mempertahankan keyakinannya
sebagai Muslim yang baik.Inilah benih-benih adab yang sudah tertanam didalam
diri al-Attas sebelum dia menjadi
ilmuwan besar yang menggagas konsep adab
di era modern.
2.
Kontribusi Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Pemikiran Islam Kontemporer
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah
seorang ilmuan muslim kontemporer. Nama dan pemikirannya memiliki pengaruh
besar di zaman modern ini. Banyak peristiwa dibawah ini yang menunjukkan bahwa
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah ilmuan muslim abad ini.
Wan Mohd Wan Daud menuturkan selama
dia menjadi mahasiswa khususnya Ketika di Mc.Gill dan London. Al-Attas aktif
sekali menjawab tantangan Barat yang di tunjukkan pada islam. Bukan itu saja
al-Attas sangat gigih dalam menyebarkan ajaran islam yang benar. Alhamdulillah
dengan izin Allah swt. kegiatan dakwah itu membuahkan hasil yang sangat
memuaskan yaitu sadarnya beberapa orang sampai akhirnya mereka pun memeluk
islam.
Sikap al-Attas tersebut menunjukkan
pendiriannya yang kuat terhadap islam. Karena tidak mudah mempertahankan
keyakinan 6 seorang muslim di neferi barat. Kalua ada seorang ilmuan yang
terseret dengan pemikiran barat, maka al-Attas akan menjadi salah satu orang
yang di kritikus tajam sejak menjadi mahasiswa. Sifat kritis al-Attas di pertahankan
sehingga dia disegani oleh ilmuan-ilmuan barat.
Al-Attas juga tidak akan segan-segan
memberikan kritikan tajam terhadap peradaban barat. Tingkat keilmuan al-Attas
juga bisa di lihat dari gagasannya tentang teori umum islmanya nusantara, bahwa
islamnya nusantara harus didasarkan dengan bagaimana sejarah kesastraan
melayu-Indinesia. Sejarawan Indonesia Azyumardi Azra sangat setuju dengan
teorinya al-Attas. Posisi al-Attas sebagai seorang ilmuan sangatlah penting
apalagi tentang Pendidikan islam. Al-Attas juga dikenal sebagai penggagas ide
Universitas Islam. Maka pada tahun 1973 al-Attas pernah mengirim surat ke sekretariat
islam di Jeddah yang isinya sangat mendesak perlunya sebuah Universitas Islam
yang berbeda. Pada tahun 1980 al-Attas berusaha manusa-manusia sempurna yang
akan memperbaiki kondisi Pendidikan di dunia islam. Al-Attas juga menjadikan
Bahasa melayu sebagai Bahasa harian di lingkungan Universitas.
Al-Attas juga dikenal sebagai salah
satu senior di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Di UKM al-Attas juga
mengganti pemakaian Bahasa inggris sebagai Bahasa pengantar dengan Bahasa
melayu.
Melihat masa
kepemimpinan al-Attas di dua institusi tinggi itu, konsep adab yang digagasnya
sebenernya sudah diaplikasikan. Mengintegrasikan jurusan-jurusan di fakultas
yang dipimpinnya merupakan bagian dari adab dalam ilmu untuk melahirkan manusia
beradab dengan keilmuan yang universal. Kemudian menjadikan bahsa Melayu
sebagai pengantar juga adab terhadap yang tidak boleh diabaikan. Karena Bahasa
Melayu memilikikaitan erat dengan proses islamisasi di Nusantara.
Atas kontribusinya
dalam dunia keilmuan, al-Attas telah diberikan penghargaan, bbaik dari dalam
dan luar negri. Al-Attas pernah menyandang kursi Tun Abdul Razak untuk
Pengajian Asia Tenggara di Universitas Ohio, Amerika Serikat tahun 1982. Dia
juga pernah dilantik menjadi penyandang kursi kehormatan Abu Hamid al-Ghazali
dalam pemikiran Islam di ISTAC oleh Dato Sri Anwar Ibrahim tahun 1993.
3. Sumbangan
Ilmiah Terhadap Peradaban Islam
Hal yang tidak
dapat dipisahkan dalam sejarah seorang tokoh intelektual adalah sumbangan
pemikiran, baik berupa sebuah karya tulis atau bentuk lainnya. Sejarah telah
banyak mencatat para ulama atau ilmuwan Muslim di masa lalu yang telah
meninggalkan banyak karya yang fenomenal.
Imam Syafi’I
telah mengarang kitab al-Umm yang sekarang menjadi kitab induk dalam bidang
fiqh madzhab Syafi’i. Melalui karya tersebut, maka Imam Syafi’I berhasil
membangun madzhab fiqih yang sampai saat ini masih eksis.Imam syafi’I juga
telah mengarang kitab ar-Risalah yang telah diakui sebagai kitab pertama dalam
bidang ushul fiqh. Kitab ini adalah kitab rujukan untuk pengambilan ijtihad
para ulama sesudahnya.
Imam
Ahlussunnah, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari, juga telah mengarang sejumlah karya
penting yang menjadi panduan umat islam dalam memahami aqidah yang
benar.Maqalat al-Islamiyyin, al-Tabyin ‘an Ushuliddin, al- Syarh wa al-Tafshil
al-Radd’ala Ahl al-Ifki wa al-Tadhlil adalah karya beliau yang telah menjadi
rujukan umat islam dalam membentengi aqidah dari berbagai tantangan yang ada
dimasa sekarang.
Hujjatul
Islam Imam al-Ghazali juga telah meninggalkan karya yang monumental seperti
Ihya’ ‘Ulumiddin dan beberapa karya besar lainnya seperti Tahafut al-falasifah,
Ayyuha al-Walad, Kimiya al-Sa’adah, al-Munqidz min al-Dhalal dan berbagai karya
lainnya.Sampai saat ini, karya-karya Imam al-Ghazali pun masih belum selesai
dikaji oleh para ilmuwan di Timur maupun di Barat. Pengaruh pemikirannya yang
sangat luas membuat para ulama menyatakan “Jika ada Nabi setelah Nabi Muhammad,
pastilah Imam al-Ghazali orangnya.”
Sebagai
seorang ilmuwan besar di era kontemporer ini, al-Attas melanjutkan tradisi
keilmuwan itu dengan mengarang sejumlah karya ilmiah yang berharga dan menjadi
sumbangan besar terhadap peradaban Islam masa kini. Sampai sekarang al-Attas
telah mengarang tiga puluh buku dan monograf dalam bahasa Inggris dan Melayu,
yang kemudian diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di dunia. Beberapa karyanya
yang sangat berpengaruh antara lain Islam Dalam Sejara dan Kebudayaan Melayu,
Risalah untuk Kaum Muslimin, Islam and Secularism, The Concept of Educationin
Islam,The Oldest Known Malay Manuscript: a
Jika
dikelompokan, maka secara umum karya-karya al-Attas itu terbagi menjadi lima
bidang keilmuan:
1. Filsafat :
seperti Prolegomenato The Metaphysics of Islam, The Degree of Exixtence, dan
karya terbarunya On Justice and the Nature of Man.
2. Tasawuf /
seperti The Misticism of Hamzah Fansuri, Raniriandthe Wujudiyah of Century
Acheh, dan The Positif Aspect of Tasawwuf.
3. Sejarah dan
Kebudayaan, seperti Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu, the Historical Fact
and Fiction.
4. Sastra;
seperti Rangkaian Ruhaiyat dan the Origin of Malay Shair.
5. Pendidikan /
seperti the Concept of Education in
Islam, Aims and Objectives of Islamic Education.
Proses bersambung
terbitnya karya-karya ilmiah tersebut dapat kita simpulkan bahwa al-Attas
merupakan ilmuwan Muslim yang cukup konsisten dan produktif berkarya. Sejak
usia muda sampai usia lanjut al-Attas masih terus menghasilkan karya-karya
ilmiah yang membahas masalah-masalah besar yang dihadapi umat Islam masa kini.
Al-Attas menulis bukan untuk mencari keuntungan dari sebuah karya seperti
royalti penjualan atau popularitas, akan tetapi untuk memberikan pemahaman yang
benar kepada umat Islam dan memberikan solusi atas masalah yang terjadi saat
ini.
Karya-karya
al-Attas ini telah mendapat perhatian dari sarjana-sarjana di seluruh dunia dan
telah diakui oleh mereka. Fazlur Rahman, seorang ilmuwan dunia mengakui bahwa
al-Attas adalah seorang pemikir jenius yang dimiliki dunia Islam. Pengakuan
dari Fazlur Rahman terlihat dari catatan-catatan yang dibuatnya ketika membaca
buku al-Attas, The Concept of Education in Islam.
Karya lain
yang memberi pencerahan untuk ilmuwan dunia adalah Islam and Secularism. Syekh
Hamzah Yusuf, seorang cendikiawan Muslim Amerika Serikat, pendiri Zaytuna
Institute di California, memberikan tertimoninya setelah membaca karya al-Attas
berulang kali.Dia mengatakan:
Your works
have in fluenced my personal and intellectual life. I have read your Islam and
Secularism from cover to cover, three times, and would return to it many times
more for specific references. To me, it is one of the fines works that a Muslim
scholar has produced in the last century.
Pengakuan
dari kedua tokoh dunia di era kontemporer ini sudah cukup menjadi bukti
kebesaran al-Attas dan karya-karyanya. Kalau bukan karena isi kandungan yang
tinggi manfaatnya bagi peradaban islam, maka para sarjana tidak perlu
menghabiskan waktunya untuk membaca karya al-Attas. Apalagi karya-karya
tersebut telah memberikan kesan positif bagi para pembacanya.
Peran
lainnya yang tidak kalah penting adalah al-Attas telah berhasil mencetak para
ilmuwan-ilmuwan beradab dari kampus ISTAC yang didirikannya. Meski beliau sudah
tidak memimpin ISTAC, namun gagasan-gagasannya untuk membangkitkan kembali
peradaban islam tetap hidup melalui murid-muridnya yang tersebar di seluruh
dunia. Dua hal yang menjadikan seseorang memiliki peran besar dalam peradaban
Islam adalah karya ilmiah yang bermutu, dan murid-murid terbaik yang setia dan
bersahabat. Dalam hal ini , al-Attas telah berhasil menghasilkan keduannya
melalui tangannya, terkhusus selama memimpin ISTAC.
Adab Dalam Literatur Islam
· Makna Adab
Kata adab sudah dikenal sebelum Islam
datang. Pemaknaan tertua dari kata adab merujuk pada suatu kebiasaan norma
tingkah laku praktis dengan konotasi ganda :
1. Nilai tersebut dipandang terpuji.
2. Nilai
tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
Tetapi nilai-nilai kebaikan yang diwariskan
pada masa sebelum islam merujuk pada adat suku dan kehidupan bangsa Arab.
Setelah islam datang, bahasa Arab berkembang pada makna unsur-unsur spiritual dan intelektual.
Sehingga terjadi islamisasi bahasa Arab Karenanya pemaknaan adab terbagi
beberapa macam :
1. (Al-tahdzib)
pendidikan & (Al-khuluq) budi pekerti. Pada masa awal keislaman adab
di artikan dengan 2 kata diatas berdasarkan hadits-hadits Rasul ﷺ.
2. (At-Ta’lim)
pengajaran. Pengertian adab dengan kata tersebut terjadi pada masa Bani Umayyah.
3. (At-Tahdzib
wa at-ta’lim ma’an) pendidikan & pengajaran. Pengertian adab dengan 2 kata tersebut
dipakai oleh Dinasti Abbasiyah.
Perubahan tersebut didasari oleh nilai dan
aturan Islam, kemudian tata cara perilaku dan etika itu kemudian ditulis dalam
bentuk sastra yang bagus dan indah meliputi : puisi, anekdot, kisah-kisah.
Menurut Al-Attas islamisasi bahasa Arab
oleh Al-Qur’an adalah, menyusun dan mengubah struktur utama bahasa Arab dalam
pandangan jahiliyah tentang kehidupan dunia dan kehidupan eksistensi manusia.
Dengan menambahkan nilai-nilai Islam dan mengakomodir nilai lama yang sejalan
dengan islam. Dalam pengertian adab Al-Attas juga setuju dengan pakar Bahasa
Universitas Keio Tokyo, Toshihiko Izutsu. Istilah tersebut yaitu “Transformasi
Semantik”, artinya istilah-istilah etika dasar dalam Bahasa Arab
bertransformasi dalam hal bimbingan peraturan moral dan penjelasan pada
masalah-masalah umum tentang etika dan perannya dalam adat kebiasaan.
Para ahli Bahasa arab juga bersepakat bahwa
makna asal kata adab adalah
undangan. Tetapi mereka tidak memaknai sebatas kata asalnya. Mereka mereformasi
makna adab dan menyempurnakan dengan makna islam. Misal :,
1. Ibn Mandzur
mengartikan kata adab dengan undangan, tidak sebatas mengundang, tetapi
bermaksud juga “Menyeru, mengajak dan mengundang seseorang kepada setiap
perbuatan terpuji dan mencegah keburukan. Ibn Mandzur juga mengutip hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud رضي الله عنه :
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ ، فَتَعَلَّمُوا مِنْ مَأْدُبَتِهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Artinya :
Sesungguhnya Al-Quran ini adalah jamuan dari Allah, maka belajarlah dari
jamuan-Nya itu sesuai kemampuanmu.
Di dalam
hadits ini, Al-Qur’an dibuat perumpamaan dengan jamuan. Allah telah menyiapkan
jamuan yang berisi kebaikan dan manfaat, lalu Allah mengundang manusia untuk
merasakannya.
2. Ahmad bin Muhammad Ali Al-Fayyumi, seorang Ahli Bahasa
Arab juga, mengaitkan kata adab dengan kondisi jiwa manusia. Al- Fayyumi
menyatakan bahwa adab dibentuk dari pola fi’il tsulatsi “a-da-ba”
(أَدب). Menurut
Al-Fayyumi kata adab artinya letihan jiwa dan akhlak yang baik “riyadhatu
annafs wa mahasin al-akhlaq” ( رياضة النفس و محاسن الأخلاق ) . Pemaknaan oleh Al-Fayyumi tersebut
disepakati oleh Abu Zaid Al-anshari. Menurutnya adab mencakup satu keutamaan “kullu
riyadhatin mahmudatin , yatakharraju biha al-insan fi fadhilatin min
al-alfadhail” (كل رياضة
محمودة يتخرج بها الإنسان في فضيلة من الفضائل). Dari
pandangan para ahli bahasa di atas terlihat bahwa kata adab sudah mengalami perubahan
dan perkembangan makna, yang disebut Izutsu
bahwa Bahasa Arab telah berkembang dan menurut Al-Attas mengalami Islamisasi. Sehungga dalam kata
adab terdapat unsur-unsur Islami dan nilai-nilai kebaikan yang bias
mendatangkan kebahagiaan jiwa.
Adapun secara terminologis/istilah, makna adab
telah disampaikan oleh banyak ulama’. Misal :
1.
Abu
Al-Qusyairy (w 465 H) menyatakan bahwa adab adalah gabungan seluruh perilaku
baik (إجتماع جميع خصال الخير) Ijtima’
jami’ khishal al-khair. Oleh karena itu orang yang
beradab adalah orang yang di dalam dirinya banyak berbuat baik. Berbeda lagi
tanggapan dari
2.
Ibn
Al-Qayyim Al-Jauziyah, menurut Ibn Al-Qayyim
adab itu lebih dari sekedar sikap. Inti atau pokok dari adab adalah
pengamalan akhlak yang baik ( استعمال الخلق الجميل) isti’mal al-khuluq al-jamil dan adab itu masuk ke dalam
usaha melakukan kesempurnaan karakter dari bakat menuju pengamalan. Pendapat
yang lain lagi dari
3.
Hujjatul
Islam Al-Imam Al-Ghazali (450-505 H). Menurut beliau adab
adalah Pendidikan diri yang lahir dan batin (و الأدب
تأديب الظاهر و الباطن) wa al-adab ta’dib al-zhahir wal al-bathin. Pengertian diatas mengandung 4 perkara :
perkataan, perbuatan, keyakinan, dan niat seseorang. Pengertian adab dari Imam
Al-Ghazali lebih lengkap dari Imam Al-Qusyairi, karena dalam pandangan Islam,
aspek luar dan dalam seorang insan itu berbeda, namun keduanya saling
berkaitan, karena aspek batin akan melahirkan suatu yang zhahir berupa ucapan
atau perbuatan. Pendapat Imam Al-Ghazali sepakat dengan
4.
Abu hafs Syihabuddin Al-Suhrawardi yang menyatakan bahwa baiknya adab pada aspek
zhahir (perilaku atau ucapan) adalah tanda baiknya seseorang pada batin
(hati)nya (حسن الأدب فى الظاهر عنوان حسن الأدب فى الأدب ). Pandangan Al-Suhrawardi ini sesuai
dengan pernyataan
5.
Sa’id bin aL-Musayyab ketika melihat
seorang yang main-main dalam solatnya, ia berkata (لو خشع قلبه لخشعت جوارهه) law khasyi’a qalbuhu
lakhasyi’at jawahiruhu, “Seandainya
hatinya khusyu’ pasti anggota badannya juga khusyu”.
6.
Al-Syarif Ali bin Muhammad Al-Jurjani
(740-816 H) menyampaikan definisi lain tentang adab. Dia mengartikan adab
dengan “Pengetahuan yang menjaga
pemiliknya dari berbagai kesalahan ’(معرفة ما يحترز به عن جميع أنواع الخطأ ) ma’rifatu ma yuhtarazu bihi an jami’I anwa’
al-kahata’. Dalam pengertian Imam Jurjani ini memposisikan adab sebagai
pengenalan (ma’rifat). Berbanding jauh dengan Al-Qusyairi dan Al-Ghazali yang sepakat bahwa
inti adab adalah perilaku dan ucapan yang baik.
Dari seluruh definisi para ulama’ terlihat bahwa adab
bukan lagi istilah yang individual (berdiri sendiri), tetapi terkait dengan
aspek keislaman lainnya seperti ilmu, sikap, pengalaman, kebaikan dan
keutamaan. Sebab itu adab adalah kata yang singkat dan padat (لفظه قليل
و معناه جليل). Pada bab selanjutnya, definisi adab oleh
para ulama’ akan dibandingkan dengan definisi Al-Attas, agar bias terlihat
jelas posisi dan definisi yang dirumuskan Al-Attas.
Adab di Dalam Al –Qur’an dan Hadits
Didalam Al – Qur’an sebenarnya kata adab tidak pernah ditemukan,
tetapi tidak menutup kemungkinan bahwasanya Allah SWT tidak itu tidak
menerangkan Adab di dalam firmannya tersebut. Salah satu ayat yang pernah di
tafisrkan oleh Ibn Abbas dan Ali Ibn Abi Thalib merupakan ayat yang menerangkan
tentang adab. QS al – Tahrim : 6 yang berbunyi
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang –
orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Dari ayat
tersebut dua penafsir ibn Abbas dan Ali Ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa ayat
tersebut memiliki arti tersirat yaitu kita harus memelihara dan menjaga diri
kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka. Cara untuk menjaga diri kita
sendiri dan keluarga kita dari api nerakak ialah dengan mendidik diri kita serta
keluarga kita dengan adab, serta mengajarkan kepada mereka tentang semua hal
dengan ilmu. Mungkin dari tafsiran tersebut lebih menekankan untuk kita para
pemimpin keluarga atau bisa kita sebut dengan ayah. Ayah merupakan sosok yang
penting dalam mendidik dan menjaga keluarganya. Imam al – Bukhori pernah
mengutip pernyataan para ulama’ yang menyatakan bahwa kebaikan itu dating dari
Allah SWT, tetapi Adab itu dating dari orang tua. Maksud dari pernyataan
tersebut ialah peran orang tua dalam mendidikkan adab kepada anaknya maka orang
tua harus berusaha untuk menanamkan adab tersebut, jangan hanya menunggu kasih
sayang Allah agar anaknya tiba – tiba menjadi anak yang beradab.
Menurut Abu Hafs Syihabuddin al – Suhrawardi, dalam
membentuk adab pada diri seseorang itu terdapat dua macam. Pertama, terdapat
seseorang yang adabnya bisa terbentuk tanpa melakukan suatu pelatihan lagi.
Salah satu contoh orang yang beradab tanpa melakukan sebauh pelatihan ialah
nabi Muhammad saw. Beliau merupakan orang yang memiliki adab dan akhlak seperti
al – Qur’an. Macam yang kedua ialah seseorang jika ingin didalam dirinya
terbentuk adab maka membutuhkan suatu latihan – latihan yang lama. Dalam dunia
pendidikan adab itu sangat penting dan harus ditanamkan kepada anak didik. Karena Syaikh ibnu Mubarak seorang ulama’ yang
shalih pernah berkata “ aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedangkan aku
belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya). Dari perkataan belaiu itu maka kita dapat
mengartikan bahwasanya menuntut adab sebelum ilmu itu sangat penting, serta
apabila kita mempelajari adab terlebih dahulu sebelum ilmu, maka kita akan jadi
mudah memahami suatu ilmu.
Makna adab sangatlah banyak dan beraneka ragam.
Jika kita melihat dalam beberapa hadits maka makna adab dapat berbeda – beda
sesuai dengan konteks dan kondisinya. Berikut ini makna – makna adab dalam
berbagai hadits.
a)
Adab bermakna firman Allah SWT
Adab bisa
diartikan sebagai firman Allah hal itu dikarena jika seorang pendidik atau
pelajar itu disampaikan firman – firman Allah kepadanya maka harusnya si
pendidik atau si pelajar tersebut bersenang hati. Baik itu senang dalam
membacanya, mendengarkannya, memahaminya, ataupun mengamalkannya. Berikut ini
bunyi arti dari haditsnya :
“dari Ibn Mas’ud, dia berkata : “Bukanlah seorang pendidik kecuali
dia senang diberikan adabnya. Dan sesungguhnya adab Allah itu adalah Al –
Qur’an”
b)
Adab berarti perilaku
Kenapa adab
bisa berarti perilaku ? dalam sebuah hadits di terangkan bahwasanya “Muliakanlah anak – anakmu dan perbaikilah
perilaku mereka”. Dari arti hadits tersebut kita dapat menagkap suatu
kesimpulan bahwasanya kita di suruh memperbaiki perilaku mereka dengan cara
melatih jiwa dan akhlak mereka dengan suatu kebiasaan yang baik, atau dengan
perilaku yang baik. Dalam hadits lain yang memiliki arti “tidak ada pemberian orangtua kepada anaknya yang lebih baik
dibandingkan dengan adab yang baik”.
Menurut Prof Al
Attas hadit ini merupakan suatu penegasan bahwasanya orang tua harus benar –
benar mendidik dan menanamkan adab yang baik kepada anak – anak mereka. Karena
timbal balik dari apabila orang tua memberikan adab yang baik kepada anaknya
maka anaknya tidak menutup kemungkinan akan menjadi anak yang sholeh / sholehah
sehingga orang tua juga akan mendapatkan manfaat dari perbautannya karena telah
menanamkan adab yang baik kepada anak – anaknya. Salah satu manfaat atau timbal
balik dari terbentuknya anak yang sholeh / sholehah ialah maka orang tua
tersebut tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan amalan jariyah dari doa
anak – anak mereka.
Cara – cara
orang tua dalam mendidik dan menanamkan adab yang baik kepada anak bisa
dilakukan dengan berbagai cara. Contohnya seperti : menegurnya, memberikan
peringatan, dan memukulnya dengan cara yang baik. Dalam hal perilaku ini sumber
segala adab baik itu zhahir maupun batin ialah rosulullah saw. Karena beliau
memiliki akhlak bagaikan al – qir’an dan beliau juga senantiasa memohon kepada
Allah SWT agar senantiasa di berikan adab yang baik (mabasin al-adab) dan ahlak yang mulia (makarim al-akhlak).
c)
Adab Berarti Saksi Kedisiplinan
Makna adab yang
terakhir yang tertulis pada buku “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al Attas dan
Apilikasinya di Perguruan tinggi” ialah adab berarti kedisiplinan. Dari riwayat
Ibn Abbas rosulullah saw bersabda :
وعن ابن عباس مرفوعا :
“علقوا السوط حيث يراه
أهل البيت فإنه لهم أدب “
Dari Ibn Abbas, Rosulullah saw bersabda “Gantungkanlah cambuk di
tempat yang bisa dilihat penghuni rumah, karena itu menjadi adab (kedisiplinan)
untuk mereka”.
Dari hadist diatas bukan berarti
islam merupakan agama yang keras yang apa – apa harus dilakukan dengan
pemukulan atau di cambuk. Tetapi makna dari hadits di atas yang saya tangkap
ialah jangan sampai kita melupakan pengajaran kepada mereka. Maksud pengajaran
disini dapat diartikan sebagai penerapan adab yang baik, sopan dan santun.
Hadits ini menuntut kepada kita para pemimpin
keluarga bahwasanya kita di amanahi oleh Allah SWT untuk mendidik anak beserta
istri - istri kita agar terjaga dari api neraka. Kita dituntut untuk mendidik
dan mendisiplinkan anak atau istri serta anggota kelaurga kita lainnya. Kata
cambuk diatas bukan berarti rasulullah saw melegalkan kekerasan terhadap
keluarga tetapi menegaskan kita untuk menegakkan kedisiplan walaupun itu hanya
dalam lingkup rumah.
v
Pandangan
Ulama Tentang Adab
Adab juga termasuk menjadi perhatian para ulama. Bahkan perhatian
mereka kepada adab lebih dari pada ilmu. Umar Ibn Al Khattab ra berkata :
pelajarilah adab kemudian baru ilmu. Pernyataan di atas menyatakan bahwa adab
lebih di dahulukan / di utamakan dari pada ilmu. Dan sebelum menuntut ilmu kita
di haruskan belajar adab terlebih dahulu agar ilmu menjadi mudah di terima dan
di pahami.
Abdullah Ibn Al Mubarak, berkata : kami lebih membutuhkan sedikit
adab daripada ilmu yang banyak. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa adab menjadi kebutuhan utama bagi penuntut ilmu dibanding ilmu itu
sendiri. Sedikit ilmu dengan adab akan bermanfaat bagi
diri sendiri maupun
orang lain.Sebaliknya, ilmu yang
banyak tanpa di sertai adab akan menjadi tak bernilai apa-apa.
Abdurrahman Ibn Al Qosim, salah seorang murid Imam Malik, berkata
bahwa ia belajar adab selama 18 tahun bersama sang guru dan 2 tahun belajar
ilmu. Pernyataan di atas menunjukkan lagi-lagi kedudukan adab lebih tinggi dari
pada ilmu, bukan berarti kita tidak belajar ilmu.
Untuk di terimanya amal selain harus sesuai dengan rukun dan
syaratnya namun juga adab-adab nya harus di perhatikan. Dan jika ilmu tanpa
adab seperti api tanpa kayu bakar, adab tanpa ilmu seperti jiwa tanpa jasad.
Ibadah seseorang sangat bergantung kepada adabnya.Pernyataan ini juga
menunjukkan bahwa adab bukan
hanya pada sesama makhluk, tetapi adab kepada Allah pun juga sama pentingnya.
Tanpa adab, amal tidak akan berguna dan tidak akan mendapatkan pahala.
Agar ilmu bisa bermanfaat, maka komposisikan adab lebih banyak dari
pada ilmu, seorang yang sedikit ilmunya tapi banyak adabnya lebih bisa di
terima masyarakat dari pada orang yang banyak ilmunya tetapi minim adabnya.
Setelah kita tanamkan adab kepada diri kita, maka selanjutnya kita
di wajibkan menanamkan adab kepada keluarga kita. Ini adalah Pendidikan atau
proses penanaman adab yang terdapat dalam tafsiran QS AT-Tahrim : 6.
Penting di ingat bahwa proses penanaman adab itu lama dan tidak
instan, oleh karena itu perlu adanya kedisiplinan, keikhlasan, keteladanan dan
pembiasaan dalam menanamkan adab yang baik untuk kita.
Salah satu yang tidak bisa di lewatkan dalam pembahasan ini adalah
Hujjatul Islam Abu Hamid yang memperinci tujuh puluh empat adab yang mencakup
berbagai bidang kehidupan. Selain itu di dalam karya imam al Ghazali yang
terkenal yaitu bidayat al hidayah, yang berisi tentang adab-adab keseharian
kita mulai dari bangun tidur hingga kita tidur lagi.
Menurut ulama adab juga menyentuh segala aspek kehidupan kita
sehari hari, seperti makan, berpakaian,dan masih banyak lagi hal yang kita
lakukan tidak luput dengan adanya adab.
Terakhir adab guru dan murid yang harus di pahami dan di amalkan,
yaitu adab seorang murid kepada gurunya mulai dari adab kepada dirinya, adab
kepada gurunya, dan adab kepada pelajarannya,begitupun guru juga harus menjaga
adab mulai dari adab pada dirinya sendiri, adab dalam mengajar, adab kepada
muridnya.
Dari pembahasan di atas atau inti dari bab ini dapat di simpulkan
bahwa masalah adab memang sangat penting, dan sudah menjadi prioritas sejak
masa generasi salaf al-shaleh. Allah s.w.t dan Rasul-Nya memerintahkan
umat ini untuk menanamkan adab kepada dirinya, kemudian kepada keluarganya.
Dan juga pandangan ulama bahwa adab tidak terbatas pada masalah
sopan santun dan etika kepada manusia, tapi juga bagaimana berperilaku yang
baik kepada Allah, waktu, kedudukan dan lainnya. Maka dari itu marikah kita
senantiasa semangat dalam mencari adab dalam proses menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Dan juga dari semua ini kita tau bahwa penanaman adab membutuhkan
waktu yang tidak sebentaar, karena harus ada usaha yang istiqomah dan evaluasi
yang berkesinambungan agar adab itu tetap terpelihara hingga terbentuknya
manusia yang beradab.
v
Adab,
Akhlak, dan Karakter
Setelah berbicara tentang adab, pada bagian penulis membahas
istilah dan karakter Agar lebih jelas kedudukan ketiga istilah yang dimaksud.
Secara etimologi, kata Akhlaq adalah bentuk jama’ (plural) dari kata
Khuluq. Namun Ketika ditanya definisi akhlak, para ulama umumnya hanya
menyebutkan Sebagian buah dari akhlak yang mulia.
Namun demikian, para ulama berpandangan bahwa kata khalq dan khuluq
adalah dua istilah yang melekat pada diri manusia. Karena manusia memiliki
Kulit luar yang bisa dilihat oleh mata, serta memiliki ruh dan jiwa yang bisa
ditangkap oleh pandangan hati. Jika disebut al-khalq itu artinya tampilan
lahiriah manusia. Sedangkan jika dikatakan al-khuluq memiliki bentuk dan sifat
yang baik dan buruk. Ibn Miskawih mendefnisikan Akhlaq
“Khulq (Akhlaq) adalah kondisi jiwa yang menimbulkan Tindakan
tanpa pemikiran dan Pertimbangan”
Al-Ghazali dan al-Jurjani mendefinisikan akhlaq dengan redaksi yang
relative sama dan lebih lengkap
“Akhlaq adalah gambaran tentang kondisi yang kuat didalam jiwa.
Semua perilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan dan tanpa membutuhkan
pertimabangan dan pemikiran. Jika kondisi yang menjadi sumber berbagai perilaku
itu bersifat baik dan terpuji secara rasional dan syara’ maka kondisi itu
disebut akhlaq yang baik. Dan jika yang muncul darinya adalah berbagai perilaku
yang buruk, maka dinamakan kondisi yang menjadi sumber itu sebagai akhlaq yang
buruk’’
Dari definisi ini bisa disimpulkan bahwa kondisi jiwa sangat
mempengaruhi perilakunya. Sebagaimana tampilan luar manusia tidak akan menjadi
indah hanya dengan dua mata, tanpa hidung, mulut dan sebagainya, maka aspek
dalaman manusia (jiwa) juga harus memiliki bagian-bagian yag membuatnya menjadi
indah. Oleh karena itu setiap manusia harus memahami kondisi jiwanya agar bisa
mengkondisikannya dengan baik, sehingga melahirkan perilaku yang baik. Dengan
demikian, jadilah ia manusia berakhlaq mulia. Baik kekuatan ilmu disebut dengan
hikmah (kebijaksanaan). Baiknya kekuatan marah disebut syaja’ah (keberanian).
Baiknya kekuatan keseimbangan disebut dengan ‘adl (keseimbangan). Keempat
kondisi ini disebut induk dari akhlak mulia.
Hubungan Adab dan Akhlak
Adapun istilah karakter itu berasal dari Bahasa Yunani charassein, yang berarti
mengukir sehingga membentuk pola. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
karakter diartikan dengan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain. Dilihat selintas makna ini, karakter
sepertinya sama dengan akhlaq sebagaimana yang penulis kemukakan di atas.
Istilah karakter, khususnya di dunia Pendidikan, muncul di
masyarakat Barat yang tidak lagi percaya dengan konsep moralitas yang bersumber
dari agama. Sejumlah pemikir Barat seperti David Hume dan Jeremy Benthem
berpandangan bahwa konsep yang diambil dari agama tidak berguna untuk tesis
moralitas.
Adapun istilah akhlak dalam perspektif Islam memiliki landasan yang
jelas dari wahyu. Sehingga baik atau tidaknya kondisi jiwa dan perilaku
seseorang dinilai dari sejauh mana kesesuaiannya dengan ajaran didalam islam.
Dengan kata lain, dalam pandangan islam orang berkarakter belum tentu
berakhlak. Sedangkan orang berakhlak sudah pasti berkarakter.
Akhirnya, ketiga istilah di atas, adab, akhlak dan karkter
memang tidak sama. Dua istilah pertama,
adab dan akhlak adalah istilah khas dalam islam. Sedangkan karakter adalah
istilah dari barat yang dianggap sama dengan akhlak, padahal sangat berbeda.
Dalam Pendidikan, umat Islam sudah memiliki konsep yang matang dengan kandungan
yang beradab dan berakhlak. Sehingga tidak perlu untuk diganti dengan konsep
karakter yang masih menyimpan sejumlah masalah, baik dari sisi konsep karakter
yang masih menyimpan sejumlah masalah, baik dari sisi konsep maupun
aplikasinya.
Sayangnya, istilah karakter digunakan untuk Pendidikan di
Indonesia. Padahal di dalam undang-undang istilah yang digunakan adalah akhlak.
Sedangkan di dalam Pancasila kata Adab menjadi istilah penting yang sangat
berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Ketika berbicara mengenai Pendidikan
berarti berarti berbicara tentang manusia. Oleh karena itu Pendidikan di
Indonesia tidak cukup hanya berkarakter, tapi harus beradab dan berakhlak.
ADAB SEBAGAI ASAS KEADILAN
Bahwa adab adalah konsep kunci utama dalam pendidikan Islam, dan
didalam buku juga di tuliskan istilah-istilah kunci lainnya yang menjadi
unsur-unsur fundamental dalam pandangan dunia Islam, sepeeti konsep makna,
ilmu, hikmah, adil, dan sebagainya yang berkatian erat dengan adab. Namun
menurut Al-Attas semua konsep itu bermuara pada konsep adab. Maka bisa
dikatakan bahwa konsep adab adalah ide pokok (master idea) dari pemikiran
Al-Attas didalam bukunya, The Concept of Education in Islam, dan
Al-Attas berkata.
There is no one other key concept which in reality is central to
education and the education process, because the others we have mentioned all
focus their meaning in this context toward it alone, such that by itself it
stand sufficient as the precise term to denote education. This is because the
key concept alluded to identifies itself
as the “something” in knowledge which is of the porpuse of seeking it.
The major key concept is couched in the term adab.
Menurut Al-Attas, adab adalah salah satu istilah yang khas dalam
agama islam. Sehingga tidak mudah menemukan padanan yang tepat dalam bahasa
lainnya. Oleh karna itu, Al-Attas merasa perlu memberikan makna baru terhadap
istilah adab, Al-attas berkata.
It is difficult to find an English equvalent of this Arabic there
whose meaning is derived from Islamic tradition. It refers to right action that
spring from self discipline founded upon knowlodge whpse source is wisdom. For
the sake of convenience I shall
translate adab simply as ‘right action’.
Dan Al-Attas sepakat dengan para ahli bahasa mengenai pengertian
awal kata adab. Al-Attas menyatakan.
Pengertian adab pada asalnya adalah undangan kepada suatu jamuan.
Konsep jaman ini membawa makna bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan
terhormat, dan ramai orang yang hadir, para hadirin adalah mereka yang dalam
penilaian tuan rumah patut mendapat penghormatan atas undangan itu. Oleh karna
itu mereka adalah orang budiman dan terhormat yang diharapkan berperilaku
sesuai dengan kedudukan mereka, dalam percakapan, tingkah laku dan etiket.
Dalam pengertian yang sama bahwa kenikmatan makanan yang lezat dalam suatu
jamuan itu makin bertambah dengan kehadiran orang-orang yang terhormat serta
ramah, dan bahwa bidangan tersebut disantap dengan tatacara, perilaku, dan
etiket yang penuh kesopanan. Demikian pula halnya ilmu harus disanjung dan dinikmati
serta didekati dengan cara yang sama sesuai dengan ketinggian yang dimilikinya.
Dan itulah sebabnya kita mengatakan bahwa analogi ilmu adalah bidangan dan
kehidupan jiwa itu.
Untuk istilah adab ini Al-Attas memberikan penjelasan yang sangat
baik terhadap makna adab. Dalam penjelasannya di atas, Al-Attas sudah
mengaitkan hubungan adab dengan ilmu menggunakan analogi yang tetap. Dalam
perumpanan yang Al-Attas sampaikan mengandung 3 unsur utama pendidikan. Pertama,
jamuan makanan yang mengandung pesan konten pendidikan. Kedua, tamu
undangan yang mengandung unsur manusia dalam pendidikan. Ketiga, etika,
adab menikmati jamuan yang mengandung pesan metode pendidikan.
Kemudian Al-Attas memberi makna baru terhadap istilah adab dengan
definisi sebagai berikut.
Adab is recognition, and acknowledgement of the reality that
knowledge and being, are ordered hierarchically according to their various
grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that
reality and one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and
potencial.
Yang dimaksud Al-Attas adalah ilmu. Dengan demikian, agar menjadi
seorang yang beradab, seorang yang harus memiliki bekal ilmu yang memadai.
Bagian dari definisi Al-Attas ini sesuai dengan definisi Al-Jurjani yang
memaknai adab dengan pengetahuan yang menjaga seorang dari kesalahannya.
Manusia yang beradab pasti berilmu, sedangkan yang berilmu pasti
beradab. Itulah mengapa para ulama menyebut ilmu bukan
sekedar banyaknya riwayat, tapi juga adanya rasa takut kepada Allah. Ilmu juga
bukan sekedar yang dihapal, tapi ilmu itu yang bermanfaat. Hal ini menunjukkan
bahwa adab itu sudah mengandung ilmu, tapi tidak sebaliknya. Inilah hakikat
adab sebagaimana yang dimaksud al- Attas. Proses penanaman adab pada diri
seseorang itulah yang disebut dengan pendidikan.
Selanjutnya, al-Attas tidak berhenti pada
penafsiran dan definisi adab yang dirumuskannya. Dia kemudian memberikan syarah
bagaimana adab itu berlaku dalam kehidupan. Bagaimana pengenalan dan pengakuan
terhadap segala yang wujud dengan berbagai kedudukannya itu harus berada pada
tempatnya.
“Diri insan esa dan mempunyai sifat dua wajab: yang
satu cenderung mengamalkan perbuatan yang terpuji, bersifat akali, taat
memalubi perjanjiannya asali dengan Tuban Yang Mahaesa, yang satu lagi
cenderung mengamalkan perbuatan yang dikeji, bersifat hayawani, tiada
memedulikan perjanjian asali dengan Tuhan Yang Mabaesa. Yang pertama kita gelar
diri akali (al-nafs al-nâtiqab), dan yang kedua diri bayawani (al-nafs
al-hayawâniyab). Apabila diri akali menguasai diri bayawani bingga ia takluk
pada kawalannya, ini berarti babwa diri insan itu telah meletakkan diri
bayawaninya pada tempat yang wajar baginya, dan begitu juga dia telah
meletakkan diri akalinya pada tempatnya yang wajar baginya. Ini adalab adab
terbadap diri sendiri. Kemudian dengan nisbab pada keluarga sendiri dan segenap
ablinya, apabila sikap serta kelakuan terbadap ibu-bapa dan yang sulung
menunjukkan amalan tawaduk yang ikblas, kasib-sayang, bormat, keperibatinan dan
kemuraban hati, ini menunjukkan babawa diri itu mengenali tempatnya yang wajar
bernisbah pada keluarganya dengan meletakkannya masing-masing pada tempat yang
wajar baginya. Ini adalah adab terbadap keluarga. Kamudian seperti itu juga,
apabila sikap serta kelakuan terhadap guru, taulan, kaum, pemimpin, menunjukkan
pengenalan akan tempat yang wajar bagi diri sendiri bernisbab pada mereka, dan
pengenalan ini diturut-serta dengan amalan-amalan yang patut dibuat, ini
menjadikan nyata adab terbadap mereka semua. Dan lagi, apabila diri meletakkan
kata-kata pada tempatnya yang wajar sebingga ma'na-ma'nanya yang sebenar
menjadi nyata pada kepabaman, dan juga kalimat-kalimat, susunan kata-kata
berirama dengan sedemikian cara sebingga prosa dan puisi menjelmakan
kesusasteraan, maka ini adalab adab terbadap babasa. Lagi pula apabila diri
meletakkan pobonan dan batu-batan, gunung-ganang dan sungai-sungai, lembab-
lembab dan tasik-tasik, binatangan dan kawasan bidupnya, pada tempat yang wajar
bagi masing-masing, ini adalab adab terbadap alam dan keadaan sekeliling.
Samalab balnya dengan rumab kediaman sendiri apabila pelbagai perabot dan
biasan diatur letaknya pada tempat yang wajar sebingga tercapai kepuasan rasa
damai semua ini merupakan adab terbadap rumah kediaman dan perabot dan biasan.,
Dan kita sebut juga bal meletakkan warna-warni,rupa-rupi bentuk dan bunyi-
bunyian pada tempatnya yang wajar mengbasilkan rasa sedap indera jasmani, ini
adalah adab terbadap kesenian dan musik. Ilmu juga, dan pelbagai cabang,
ranting daun dan buabnya, yang seselengabnya mempunyai keutamaan yang lebib
penting dari yang lainnya bagi kehidupan serta nasib kita terakbir, apabila
kita aturkan menurut pelbagai darjab keutaman dan kepentingan, meletakkan
masing-masing pada tempatnya yang wajar, maka inilah adab terbadap ilmu.”
Contoh-contoh yang disebutkan al-Attas ini memperjelas konsep adab
yang dimaksud. Singkatnya, konsep adab al- Attas adalah konsep ilmiah dalam
Islam untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan. Penjelasan al-Attas ini juga
menunjukkan bahwa konsep adab itu tidak abstrak, justru memiliki indikator
dapat diukur, yaitu adanya pengenalan berdasarkan ilmu, pengakuan yang
dibuktikan dengan amal, hirarki setiap yang wujud atau kedudukan dan tempat
yang benar dan wajar sesuai dengan kedudukannya Semua itu terpadu sehingga
menimbulkan keindahan, keharmonian dan keadilan dalam kehidupan. Dengan
pemaknaan adab seperti ini al-Attas telah memberikan makna adab yang lebih luas
dari sekedar sopan santun terhadap sesama. Juga bukan hanya aplikasi pendidikan
di tingkat dasar sebagaimana disebutkan dalam buku-buku sejarah peradaban
Islam. Adab ini adalah ilmu dan amal yang harus selalu lekat dalam diri manusia
sepanjang hidupnya, di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja.
Dirinya harus mampu bersikap adil dan meletakkan segala hal dengan berbagai
perbedaan yang ada pada tempatnya yang wajar. Jika konsep adab ini dipahami
dengan baik, maka pendidikan akan menjadi lebih baik. Pendidikan tidak akan
dipahami sebatas di sekolah, kampus atau pesantren, tapi di setiap tempat,
waktu dan keadaan pendidikan bisa tetap dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan Islam yaitu melahirkan manusia yang beradab (insân adabi). Adab akan
diamalkan bukan sekedar pembiasaan tapi juga karena adanya keimanan kepada
Allah s.w.t. Sebab jika seseorang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, itu
berarti kezhaliman. Kemudian, dia akan mempertangungjawabkan perbuatannya itu
kelak di hadapan Allah s.w.t.
Adab Sebagai Islamisasi Ilmu
Islamisasi ilmu sebenarnya sudah ada sejak awal islam. Wahyu
pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW itu sudah mengandung islamisasi ilmu.
Cara pandang (worldview) masyarakat Arab jahiliyah diubah melalui Bahasa
al-Qur’an yang mengandung makna islami. Dalam QS al-Alaq 1-5 itu Allah Swt
mengajak manusia memahami konsep ilmu (iqra’) yang dikaitkan dengan
tuhan (bismi rabbika), konsep manusia sebaai ciptaan Allah (khalaqa
al-insan), dan konsep Tuhan sebagai pendidik (alladzi’ allama bi
al-qalam). Meski sebelumnya mereka pernah mendengar kata ilmu, Tuhan,
manusia, namun makna yang dihadirkan dalam wahy pertama itu berbeda dengan apa
yang mereka pahami selama ini oleh masyarakat Arab.
Di era modern ini, al-Attas
menyampaikan gagasannya tentang islamisai ilmu kontemporer sebagai respon
terhadap tantangan pemikiran dari luar islam, khususnya Barat. Menurut
al-Attas, tantang terberat umat manusia saat ini berasal dari Barat.
Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan
manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan
merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat
hari ini. Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul diam-diam
di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan
kejahilan, tetapi ilmu yang dipahami dan disebarkan ke selurih dunia oleh
peradaban Barat, hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ila telah
kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil.
Kondisi diman ilmu dipahami secara keliru termasuk masalah loss
of adab. Di sinilah al-Attas menjalankan tugasnya sebagai ilmuwan Muslim
untuk menolak pandangan hidup yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam pandangan
al-Attas Islamisasi ilmu berarti
Pembebasan manusia yang diawali dengan pembebasan dari
tradisi-tradisi yang berunsurkan kuasa sakti (magic), mitologi, animism,
kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan islam, dan sesudah itu
pembebasan dari belenggu sekular terhadap akal dan bahasanya tidak lagi
dibelenggu oleh kuasa sakti, mitologi, animisme, tradisi nasional dan
kebudayaan, serta sekulerisme. Ia terbebaskan baik dari pandangan alam yang
berunsurkan kuasa sakti maupun pandangan alam yang sekular. Lita telah
mendefinisikan hakikat Islamisasi sebagai sebuah proses pembebasan. Meskipun
manusia memiliki unsur jasmani dan ruhani, proses pembebasan ini merujuk pada
bagian ruhaninya, karena sebagai seorang manusia sejati semua tindakannya yang
bermakna dilakukan dengan sadar dan merujuk pada ruhaninya. Islamisasi adalah
sebuah proses yang lebih bersifat devolusi pada keadaan asal daripada evolusi,
manusia sebagai ruh telah sempurna, tetapi manusia ketika terlema dalam diri
jasmani akan menjadi jahil dan zhalim trhadap dirinya sendiri dan karenanya tak
terhindarkan lagi menjadi tidak sempurna.
Dari pengertian ini, maka islamisasi ilmu kontemporer haris diawali
dari penanaman cara pandang Islam pada diri seseorang. Al-Attas
mengartikan cara pandang dalam perspektif Islam sebagai pandangan tentang
realitas dan kebenaran / pandangan islam terhadap wujud. Pandangan
islam ini berisi konsep konsep kunci dalam Islam seperti konsep Tuhan, konsep
wahyu, konsep manusia, konsep ilmu, dan sebagainya.
Dengan bekal cara pandang
isilam ini seorang Muslim akan mampu untuk bersikap adil terhadap segala hal.
Dia akan bisa menilai bahwa yang bisa diterima oleh seorang Muslim itu bukan
hanya realitas, tetapi juga harus mengandung sebuah kebenaran.
Islamisasi ilmu yang dirumuskan al-Attas bukan berarti menolak
metode ilmiah pada aspek teknisnya, namun metode itu harus ditempatkan secara
adil dalam wilayahnya. Tidak boleh melampaui batas yang telah ditentukan oleh
umat Islam.
Jika dikaitkan dengan konsep
adab yang dirumuskannnya, maka Islamisasi ilmu bisa dikatakan sebagai satu
bentuk aplikasi konsep adab terhadap ilmu. Islamisasi bukan anti terhadap
Barat, tapi bagaimana meletakkan konsep-konsep ilmu yang datang dari luar
islam, khususnya dari Barat di tempat yang wajar. Oleh karena itu al-Attas
membuat rumusan Langkah Islamisasi ilmu dengan dua cara. Pertama,
de-westernisasi atau pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang
membentuk kebudayaan dan peradaban Barat dari setiap ilmu saat ini. Kedua,
memasukkan unsur-unsur islam lengkap dengan konsep-konsepnya di setiap ilmu
tersebut. Jika kedua Langkah ini dapat dilakukan, maka Islamisasi sebagaimana
yang diartikan al-Attas melahirkan manusia-manusia beradab yang akan melakukan
perbaikan terhadap segala kerusakan.
Islamisasi ilmu itu adalah
bagaiman menjadikan ilmu itu menjadi bermanfaat. Sedangkan kemudahan yang
menimbulkan kerusakan tidak bisa disebut manfaat. Islamisasi ilmu bertujuan
untuk memudahkan manusia mendapatkan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Dengan
demikian manusia akan mendapat ridha Allah dengan ilmu yang dipelajari dan
diamalkannya. Itulah tujuan tertinggi dalam Islam sebagaimana dibahas para
ulama dalam karya-karya mereka.
Di era modern ini, umat Islam Kembali menghadapi tantangan keilmuan
dari Barat. Sebagai ilmuwan Muslim yang pernah menimba ilmu di Barat merasa terpanggil
untuk menunjukkan sikapnya dan mengingatkan kaum Muslimin. Al-Attas tidak anti
ilmu dan tidak anti Barat. Yang dikritik oleh al-Attas dalam karya-karyanya
adalah cara pandang Barat yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam.
Adapun masalah-masalah yang tidak bertentangan dengan Islam al-Attas tetap
menerimanya.
Ketika ak-Attas merumuskan
Islamisasi ilmu dengan pendekatan cara pandang, maka yang pertam
dilakukan al-Attas adalah membersihkan konsep-konsep kunci dalam Islam dati
cara pandang yang keliru. Kemudian al-Attas menyampaikan pandangannya sesuai
dengan cara pandang Islam. Singkatnya, Islamisasi ilmu al-Attas in sejatinya
adalah Islamisasi cara pandang ilmuwan agar menjadi manusia yang beradab.
Inilah konsep Islamisasi ilmu yang digagas al-Attas yang sesuai dengan tujuan
pendidikan.
Adab Sebai Asas Universitas Islam
Awalnya Pendidikan hanya ada
Pendidikan tinggi namun siring berjalannya waktu Pendidikan pun sekarang ada
yang Pendidikan dasar dan menengah, secara fakta bahwa peradaban besar dunia
memiliki universitas atau Lembaga Pendidikan tinggi seperti Cina dengan
Universitas Shang Hsiang, di Yunani dengan Akademi Platonya dll tapi jauh
sebelum itu di dunia Islam telah melahitkan Lembaga Pendidikan tinggi yang
henat sepeti Baitul Hikmah, Madrasah Al-Nizamiyah dll namun konsep Pendidikan
Islam dengan Pendidikan Barat berbeda karena konsep Pendidikan Islam adalah
tidak semata mengajarkan ilmu namun membangun sebuah adab yang sudah di
contohkan oleh Rosulullah.
Konsep Universitas Islam yang
di rumuskan Al-Attas adalah refleksi dari manusia dengan contoh yang real yaitu
baginda Nabi Muhammad, jadi Al-Attas menginginkan bahwa Universitas Islam tidak
meniru akan Universitas Barat yang tidak mencerminkan manusia akan tetapi lebih
ke negara dan masyarakatnya.
Al Attas menegaskan bahwa :
“tidak pernah ada dan
tidak akan pernah ada kecuali dalam Islam yaitu pribadi Nabi Muhammad.”
Ilmuan Barat berpendapat
bahwa Universitas hanya tempat untuk berbagi ilmu namun tidak untuk menanamkan
adab. Universitas Islam harus menjadi tempat untuk melahirkan generasi manusia
yang baik sebagaimana yang sudah di contohkan oleh nabi bahwa manusia yang baik
adalah manusia yang beradab.
Cardinal Newman menyatakan
bahwa :
“tujun Pendidikan adalah intelektual dan penyebaran ilmu
pengetahuan bukan untuk Pendidikan moral.”
Pandangan ilmuan Barat tersebut membuktikan bahwa mereka sudah
tidak lagi mencerminkan manusia, mereka tidak memahami bahwa manusia punya
hakikatnya sendiri-sendiri seeprti hakikat jiwa dan raga, dua hakikat tersebut
menjadi acuan untuk menyiapkan ilmu dan kebutuhannya.
Al Attas menyatakan :
“sebagaimana manusia yang terdiri dari dua hakikat dan dua jiwa,
demikian pula ilmu yang mempunyai dua jenis yaitu adalah ilmu bidang dalam
kehidupan bagi jiwanya dan ilmu dalam bekalan bagi melengkapi diri manusia di
dunia untuk mengejar tujuan-tujuannya.”
Ilmu dan Pendidikan merupakan
jalan untuk memenuhi unsur yang ada dalam diri manusia baik jasmani, rohani,
akal, dan qolbu. Klasifikasi ilmu kepada fardhu ‘ain dan fardhu kifayah di
sebut dengan istilah jami’ah atau kuliyah. Ilmu yang diajarkan suatu
universitas harus lengkap dan menyeluruh, bukan parsial dan mengarahkan ke
spesialisasi sempit. Pendidikan yang mengarah ke spesailisasi sempit sebenarnya
sama dengan melatih manusia untuk menjadi hewan, spesialisasi sempit tidak akan
melahitkan manusia beradap namun akan melahirkan manusia yang biadab.
Al attas memberi perhatian
lebih terkait maslah klasifikasi ilmu yang diajarkan dengan cara mengingatkan
mereka dengan pentingnya Menyusun kurikulum Pendidikan sesuai hierarki yang
benar.
“sebagaimana orang Islam
yang tidak boleh mengabaikan hal ini, karena Islam tergantung akan tiga asas
ilmu, karena itu juga ilmu menjadi dua jenis dan ilmu persyaratan (fardhu ‘ain)
harus menjadi asas bagi semua Pendidikan”
Menurut Harry Lewis bahwa
kampus-kampus seperti Harvard dan kampus lainnya telah kehilangan atas tujuan
untuk menjadikan mahasiswa menjadi seorang manusia yang baik dan religious,
dikarenakan para profesor sibuk akan penelitian mereka sementara mahasiswa nya
belajar sendiri apa yang mereka suka tanpa arahan dan bimbingan.
Dalam ajaran islam terdapat
hal-hal yang dapat berubah (mutaghayyirat) dan tidak dapat berubah (tsawabit).
Dalam konsep Pendidikan dalam Islam bahwa adab adalah hal yang tidak dapat di
rubah meskipun seberapapun lamanya hal tersebut.
Al-Attas berpendapat bahwa
Pendidikan tinggi itu bukan hak semua orang melainkan hanya orang-orang yang
berhak lah yang dapat memasukinya. Tom Nichols menyatakan bahwa era saat ini
adalah era matinya kepakaran. Salah satu indicator yang disebut oleh dirinya
telah terjadi di Pendidikan tinggi.
“Cukup banyak pemilik
gelar dokter dari universitas-universitas terkemuka yang tidak pernah menulils
satu hal penting pun setelah melihat disertasi. Orang-orang semacam ini mungkin
telah mendapatkan jalan untuk masuk ke profesi tertentu, tetapi mereka tidak
terlalu pintar, dan keahlian mereka kemungkinan besar tidak akan pernag
melewati batas alami kemampuan mereka sendiri.”
Hal tersebut adalah tragedy
keilmuan dan tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi karena jika di
teruskan maka tidak akan ada masnusia yang beradab, apalagi di jenjang yang
lebih rendah.
“ibarat di sebuah rumah,
lantai yang di bersihkan akan menjadi sia-sia, jika bagian atasnya di biarkan
kotor.”
Di situlah pentingnya adab
menjadi asas universitas Islam di dalam berbagai aspek. Menurut Wan Mohd Nor
wan Daud berkata :
“Untuk mencapai tujuan itu
perlu persiapan seperti hal berikut
1.
Universitas
harus dipimpin oleh pemimpin akademik yang komitmen terhadap Pendidikan baik
dalam religious filosofi atau sosial-budayameskipun begitu juga harus mempunyai
keahlian dalam bidan lain dan memiliki pengalaman kepemimpinan.
2.
Program
harus disusun menurut hierarki, meskipun begitu harus ada intregasi ilmu
didalamnya.
3.
Manusia
dan universitas harus ada hubungan saling mencintai, saling menghormati sesuai
ilmu dan adab
4.
Memiliki
struktur bangunan yang bernuansa islam.
Ke 4 hal tersebut telah di ikhtiyarkan oleh Al-Attas selama
memimpin ISTAC. Maka posisi adab menurut Al-Attas adalah sebagai berikut :
Kedudukan Konsep Adab menurut Syed
Muhammad Naquib Al-Attas
Konsep adab Al-Attas bisa di liat
akan tiga Langkah ini:
·
Adab
sebagai asas keadilan Dimulai dengan menanamkan adab dalam diri kemudian
melahirkan sikap adil pada setiap individu.
·
Adab
sebagai asas islamisasi Ilmu Mengamalkan adab di lingkup yang lebih luas.
·
Adab
sebagai asas Universitas Islam Menerapkan adab di Lembaga Pendidikan tinggi
dengan membangun universitas Islam yang berbeda dengan universitas lainnya.
Aplikasi Konsep Adab Syed Muhammad
Naquib Al Attas di ISTAC (1987-2002)
Dalam bab ini Dr.
Muhammad ardiansyah menulis sedikit tentang sejarahh dibangun nya ISTAC. Konsep
adab sudah ada sebelum adanya ISTAC, namun di Lembaga inilah Prof. Naquib Al
Attas berusaha mewujudkan gagasannya tentang Pendidikan secara total. Dia
berjuang untuk menjadikan ISTAC sebagai refleksi dari insan kamil.
· Syed Naquib Al-Attas dan Istac
Secara resmi
Istac didirikan pada 1 Desember 1987, kampus ini didirikan setelah Prof. Naquib
dilantik menjadi Guru Besar Pemikiran
dan Peradaban Islam oleh Tan Sri Murad Mohd Noor yang saat itu menjabat
sebagai Standing Financial di IIUM.
ISTAC merupakan
Badan Usaha milik pemerintah Malaysia yang didirikan dan dipimpin langsung oleh
Prof. Dr. Naquib Al-Attas dari tahun 1989 hingga 13 Oktober 2002. Amanah yang
diberikan kepada beliau ini tertulis dalam peraturan yang dikenal Internasional
Institute of Islamic Thought and Civilization Rules 1989(ISTAC Rules). Peraturan
ini ditanda tangani dan disetujui oleh ketua perlembagaan dan Presiden IIUM.
Dengan adanya peraturan ISTAC 1989 ini, Prof. Naquib diberi kuasa dan keluasaan
untuk mempin ISTAC mencapai tujuan pendiriannya.
Jauh sebelum ISTAC didirikan, tepatnya
pada tahun 1959 Prof. Naquib pernah menulis sebuah sajak yang diberi judul Tempat
Terindah. Sajak ini menggambarkan bahwa tempat terindah bagi umat muslim
lebih bersifat Rohani daripada Geogafis.
Wahai Gembara—Kau
Nan luas telah merantau
Menikmati puspa nan mekar
Melihat seribu kawthar
Sebanyak negeri kau singgah
Di mana tempat terindah?
Tahukan dimana
Semesta alam berpunca
Indah damai tak berperi
Tiada iklim menandingi?
Di mana kekasih ada
Di situ tempat terpuja
Me'skipun lamanya sempit
Kurasa seluas langit
Jejak kekasih di tanah
Ku anggap tempat bertuah
Walaupun tanahnya hampa
Di situ tempat bertapa
Denganmu walaupun di hutan rimba
Dipadang pasir panas menyala
Laksana Firdaus nikmat kuanggap
Ketebing kawthar jasad menyayap
Gelap hidupku dalam penjara
Asalkan kau di situ ada
Menjadi taman peri wajahmu
Semerbak mawar mekar baru
Setelah 20 thn, tempat terindah itu adalah ISTAC, oleh karena itu
Prof. Naquib mengimpikan ISTAC menjadi pusat Pendidikan tinggi Islam Modern
dalam struktur akademik, hubungan soial, dan begitu pula bangunan fisiknya.
Untuk mewujudkan itu semua Prof. Naquib langsung turun tangan untuk mengatur
semuanya, mulai dari memberi nama, mencari bahan bangunan, konsep Pendidikan,
kurikulum, menyiapkan buku-buku di perpustakaan dan lain sebagainya.
Sejarah berdirinya ISTAC dapat melihatkan kepada kita bahwa konsep
adab yang digagas oleh Prof. Naquib dan terwujudnya ISTAC sudah ada rentan
waktu yang cukup lama, 10 tahun jarak terbentuknya ISTAC dan Konferensi
Internasional Pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah tahun 1977, apalagi
Prof. Naquib telah membahas masalah adab jauh sebelum Konferensi itu. Konsep
adab yang di bawa oleh Prof. Naquib sudah terbilang matang untuk diaplikasikan,
apalagi pengalaman beliau memimpin sejumlah Lembaga Pendidikan sebelumnya, maka
bukan suatu hal yang aneh jika ISTAC menjadi Lembaga Pendidikan yang diakui
dunia.
ISTAC sendiri telah menerima Mahasiswa dari berbagai penjuru dunia
dan telah melahirkan sarjana Muslin dengan latar belakang Pendidikan Master
Ph.D.
ISTAC sendiri
juga telah mendapat berbagai penilaian dari banyak orang, dari alumni mereka
hingga orang orang terpandang di bidang Pendidikan. Salah satunya adalah
Nurdeng Deuraseh yang merupakan Doktor jebolan ISTAC pada tahun 2002 menyatakan
Perbedaan yang ketara antara
ISTAC dan institusi pengajian tinggi Islam di dunia Islam secara
umumnya dan di Malaysia khasnya ialah pada sistem Pendidikan dan pengajarannya,
termasuk tradisi pengendalian kuliah dan penyelidikan. ISTAC bukan hanya
bertujuan melanjutkan tradisi madrasah, katatib, dan jami'ah dengan mengulangi program-program
yang sudah ada di dunia Islam seperti biding Usuluddin atau Akidah, Fiqih atau
Shariah, sebaliknya ISTAC ingin menjadi pusat kecemerlangan akademik bercirikan
pusat-pusat pengajian yang bersifat tradisional dan modern, berciri kewahyuan
dan ketaakulan.
Kesan lainnya juga disampaikan oleh Mashasiswa yang sebelumnya
telah menjalani Pendidikan di Lembaga tinggi kelas dunia seperti University of
Chicago, Shelly Oak Collage di University of Birmingham, McGill University,
Punjab University dan lain sebagainya.
Iskandar Arnel yang pernah menuntut ilmu di McGill University
berpendapat bahwa salah satu kelebihan ISTAC dikarenakan asas ilmiahnya
dibangun oleh Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang sudah matang dalam
menghadapi sikap sarjana Barat yang sering berlaku tidak adil kepada islma,
serta sarjana Muslim yang gagal dalam memahami masalah sebenarnya, dan malah
menunjukkan kekeliruannya terhadap Islam. Iskandar Arnel juga beranggapan bahwa
konsep Pendidikan yang dibawa oleh beliau meletakkan unsur Iman, Islam, Ilmu,
Amal, dan Adab sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dari banyak kelebihan yang ada padanya, tentunya ISTAC juga
memiliki berbagai kekurangan dan kelemahan yang perlu diperhatikan, yakni
banyak pengajar di ISTAC yang sifatnya come and go, yaitu tidak ada yng
menetap, kedua, Perkuliahan yang non-stop alias padat dan
memiliki masa jeda antar semester yang terbilang sangat singkat, yakni hanya 7
hari. Padahal mata kuliahnya yang inter-disiciplin, mahasiswa setidaknya
butuh melakukan penelitian awal sebelum perkuliahan dimulai. Ketiga, yaitu
kecanggihan network yang beloum secanggih McGill.
Syamsuddin Arif yang merupakan alumni S2 dan S3 ISTAC, dan pernah
menjalani studi di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat
Frankfurt, Jerman, memberikan kesan
Saya melihat
ada beberapa kesamaan dan perbedaan antara ISTAC dengan pusat-pusat kajian
Islam di Barat. Kesamaannya antara lain terletak pada penekanan terhadap
Bahasa. Di ISTAC semua mahasiswa wajib mempelajari dan menguasai minimal dua
Bahasa, Arab dan Parsi, yang ditawarkan setiap semester, plus Bahasa-Bahasa
Eropa selain Inggris, seperti Greek, Latin, Francis, dan Jerman. Kedua,
terletak pada pengadaan fasilitas riset yang memadai, terutama perpustakaan
yang merupakan jantung setiap Lembaga Pendidikan tinggi. Dalam bidang kajian
pemikiran dan peradaban Islam, Barat dan Timur, koleksi perpustakaan ISTAC
boleh dikata adalah yang paling lengkap di Asia Tenggara. Adapun perbedaannya
terletak pada misi dan kurikulumnya. Kalau studi Islam di Barat misinya sudah
jelas, untuk mempertahankan hegemoni intelektual mereka. Sementara misi ISTAC
adalah untuk membangun kembali peradaban Islam dan jati diri umat Islam yang
porak-poranda akibat hegemoni Barat/Dan ini tercermin dalam kurikulum nya yang
unik, di mana mata-kuliah yang ditawarkan dikelompokkan dalam tiga bagian.
Islamic Thought, Islamic Science dan Islamic Civilization . Dengan begitu
mahasiswa ISTAC diarahkan dan dibentuk untuk
menjadi ilmuwan yang mampu melihat dan memahami persoalan dari berbagai sudut
pandang.
Dari beberapa kesan yang telah diberikan oleh sejumlah orang, kita
dapat melihat bahwa ISTAC memang menawarkan konsep Pendidikan yang baru dan
berbeda di era modern. ISTAC berbeda dari perguruan tinggi yang sudah lama
eksis seperti Al Azhar dan berbagai Univ ternama di Timur Tengah, begitu pula
dengan Univ di negara-negara Barat seperti McGill University dan lain
sebagainya. ISTAC berdiri sebagai kampus yang yang memadukan antara nilai-nilai
dan ajaran modern dan tradisional tanpa kehilangan identitasnya sebagai Univ
Islam sebenarnya.
Profesor Dr. Ferid Muhic
menyebut ISTAC dengan al-Hambra di Timur. Beliau menyatakan bahwa
sumbanganISTAC mengingatkan kembali kepada
keunggulan peradaban Islam yang selama ini dilambangkan dengan
al-Hambra. Menurutnya, kini al-Hambra yang baru sudah muncul di puncak bukit, lalu
menyinari alam sekitarnya dengan cahaya yang terpancar dari pusat jati diri
sendiri.
Al-Hambra sendiri adalah nama sebuah
kompleks istana sekaligus banteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di
Granada, Spanyol bagian selatan (dikenal dengan sebutan Al-Andalus ketika
banteng ini didirikan), yang mencakup wilayah perbukitan di bataskota Granada.
Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesamya.
Meski banyak mendapat kesan
positif, ada juga yang berbeda pendapat dengan Prof. Naquib Al-Attas dan ISTAC, Mona Abaz menulis pendapatnya
Pemahaman elitis, otoriter, dan hierarkis direktur tentang pendidikan
Islam dan cara Institut menerima jumlah siswa yang terbatas, eksklusivitas
(hanya untuk kashah, dan sedikit) dan akses yang sulit ke perpustakaan dan staf
pengajar yang pada dasarnya asing (Iran, Sudan , Turki, Amerika, dan beberapa
orang Melayu) memperjelas bahwa kedua institusi tersebut (Universitas Islam dan
ISTAC) berfungsi secara terpisah, jika tidak saling menjauhkan diri.
Akan tetapi
pendapat itu dibantah oleh Wan Nor Daud, bahwa ISTAC sebenarnya mirip dengan
McGill Universuty di Kanada yang memiliki sedikit mahasiswa dari segala penjuru
dunia, akan tetapi ISTAC sangat menekankan Kualitas daripda Kuantitas, sebab
banyaknya siswa tidak menentukan bagusnya suatu Lembaga.
Demikian beberapa pendapat terhadap ISTAC
ataupun Prof. Naquib, meski berusaha untuk membangun peradaban islam, namun
banyak juga yang tidak sependapat dengan cara Prof. Nquib. Namun perhatian para
ilmuwan terhadap ISTAC telah menunjukkan Prof. Naquib telah melakukan usaha
yang keras dalam membangun peradaban islam.
Setelah 15 tahun berdiri, tepatnya ada
tahun 2002 posisi Al Attas tidak diperpanjang karena adanya beberapa masalah
mulai dari manajemen hingga arsitektur bangunannya. Akhirnya ISTAC diubah
statusnya menjadi salah satu fakultas yang ada di IIUM oleh Presiden IIUM Sanusi
Junid. Pernyataan itu tidak disetujui oleh Ali A.Alwi, menurutnya pembubaran
ISTAC bukanlah masalah manajemen atau lainnya melainkan lebih bersifat politis
yang mengakibatkan ISTAC dan Prof. Naquib menjadi korban kebusukan,
kecemburuan, dan kedengkian pada perang yang berkelanjutan dalam dunia
Pendidikan di Malaysia.
Masalah yang dimaksud oleh Allawi adalah
pertarungan besar antara Mahatir Muhammad dan Anwar Ibrahim. Sebagaimana
sejarah pendirian ISTAC merupakan jasa besar yang diberikan Anwar Ibrahim terhadap
pemikiraqn Prof. Naquib. Namun Anwar Ibrahim yang kalah dalam pertarungan
politik dan dihakimi penjara, kritiksn dan serangan tidak dapat dihentikan
terhadap ISTAC. Mau tidak mau ahirnya ISTAC bergabung dengan IIUM yang memiliki
konsep Islamisasi ilmu Ismail Rajil Al-Faruq.
Namum belakangan ini ISTAC sudah berubah
funginya menjadi museum yang sering digunakan sebagai tempat foto-foto dan
pembuatan film. Namun kabar terbaru ISTAC sudah menjadi Institut Antarbangsa
Tamadun Islam dan Dunia Melayu. Dengan begini pendapat Sanusi Junid tentang
masalah manajemen perlu ditanyakan kebenaranya.
Sebaliknya jika benar ada masalh politik
dibalik penutupan ISTAC, maka ibrah yang bias diambil adalah pentingnya para
ulama dan umara yang saling mendukung untuk membangun beradaban islam melalui
Pendidikan.
·
Aplikasi
Konsep Adab dalam Tujuan Pendidikan
Ketika berbicara soal Pendidikan, Prof Naquib Al-Attas dengan tegas
menyatakan bahwa tujuan Pendidikan dalam islam adalah untuk melahirkan manusia
yang baik.
The aim of education in islam is to produce a good man. The
fundamental element inberent in the concept of education in Islam is the
inculcation of adab (ta’dib).
Pernyataan ini pernah disampaikan ketika Konferensi Internasional
Pertama Tentang Pendidikan Islam di Mekkah, tahun 1977.
Dan dengan itu al-Attas mengimplementasikannya untuk jenjang
perguruan tinggi yang bernama ISTAC dengan merumuskan 2 tujuan utama ISTAC
yaitu :
1.
Mengkonsptualisasikan,
menjelaskan, dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam
masalah-masalah budaya, Pendidikan, keilmuan, danepistemologi yang dihadapi
Muslim pada zaman sekarang ini.
2.
Untuk
memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural
dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran, agama dan ideologi.
Jika dilihat dari dua tujuan utama
yang dirumuskan al—Attas ini, maka tujuan ISTAC sesuai dengan konsep adab yang
digagasnya. Di dalamnya tidak ada tujuan pragmatis untuk meraih keuntungan
duniawi. Dan dengan demikian al-Attas mengikuti jejak para ulama seperti
al-Ghazali, al-Zarnuji, KH Hasyim Asy’ari dan sebagainya ketika merumuskan
tujuan Pendidikan dalam karya-karya mereka. Bahkan para ulama senantiasa
mengingatkan para penuntut ilmu untuk meluruskan niatnya ketika belajar, dan
terus menjaganya agar sampai kepada tujuan Pendidikan sebagaimana diajarkan
oleh islam.
Karena suatu peradaban islam akan
tegak dengan Pendidikan yang terfokus pada adab dan ilmu, dan yang sebaik-baik
peradaban adalah peradaban yang menerapkan konsep-konsep islami, sebab islam
sudah sempurna dari semua sisi.
Dari tujuan utama ini al-Attas ingin
mendidik mahasiswa ISTAC untuk mengenali konsep-konsep fundamental sesuai cara
pandang islam, kemudian mengamalkannya dengan cara merespon berbagai tantangan
yang datang. Semua ditempatkan sesuai kedudukannya menurut kriteria islam.
Sehingga mahsiswa ISTAC diharapkan bias bersikap adil terhadap berbagai masalah
dan tantangan yang dihadapi pada masa ini.
Dua
tujuan utama ISTAC kemudian dijabarkan lebih jauh dalam tujuan-tujuan praktis
yaitu :
1.
Mengawasi
dan mempromosikan kajian-kajian dan penelitian-penelitian tentang pemikiran dan
peradaban Islam yang meliputi penganalisaan, penjelasan, penguraian,
pendefinisian terhadap konsep-konsep Islam yang penting yang berkaitan dengan
kebudayaan, Pendidikan, saintifik dan epistermologi yang dihadapi oleh kaum
Muslimin pada zaman sekarang.
2.
Mengawasi
kajian-kajian dan penelitian-penelitian tingkat sarjana dan doctor di ISTAC
dengan melatih para sarjana dan pemimpin intelektual untuk mengembalikan
peradaban Islam pada tempatnya yang wajar dalam dunia modern.
3.
Menjadi
salah satu institusi di negara Islam yang bertujuan untuk menyusun filsafat
Pendidikan islam secara berangsur-angsur.
4.
Mengawasi
penelitian dan kajian tentang peradaban Islam di alam Melayu.
5.
Mengawasi
penelitian dan kajian tentang kaidah-kaidah dan isi kandungan berbagai disiplin
dan kursus akademik untuk dilaksanakan di Universitas Islam Antarbangsa dengan
tujuan menyatukan (semua bidang) keilmuan di semua fakultas di universitas itu.
6.
Memenuhi
kebutuhan saat ini terhadap usaha-usaha intelektual yang kreatif yang dapat
membantu membangun kembali peradaban Islam.
7.
Menyiapkan
respon Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan budaya yang datang
dari dunia modern dan berbagai cabang pemikiran, agama dan ideologi.
8.
Mengkaji
makna dan filsafat kesenian dan arsitektur Islam dan menyediakan panduan bagi
Islamisasi kesenian dan Pendidikan.
9.
Menerbitkan
hasil-hasil penelitian dan kajian yang diawasi dari waktu ke waktu untuk disebarkan
ke dunia islam.
10.
Membangun
sebuah perpustakaan rujukan sebagai wadah untuk mencapai tujuan-tujuannya.
11.
Mengawasi
semua bentuk penelitian yang berkaitan dengan Islam sebagaimana yang ditentukan
oleh direktur.
12.
Mengadakan
berbagai konferensi dan pertemuan untuk membacakan kertas kerja (papers) dan
menyampaikan kuliah-kuliah dan untuk meraih dan menyebarkan ilmu.
13.
Mendukung
berbagai kegiatan universitas dalam mempromosikan Pendidikan dan penelitian
Islam.
14.
Menabur,
mengembangkan dan menjalin hubungan dan kerjasama dengan berbagai institusi,
universitas, dan badan lainnya yang terlibat dengan berbagai aktifitas Islam
dan secara berkala mengawasi dialog, seminar, dan konferensi dengan organisasi
luar dan dalam negeri yang didirikan dengan tujuan yang sama.
15.
Meneguhkan
kembali pandangan alam islam dalam sains dan ruang lingkup Pendidikan yang
relevan dengan kekuatan sosial bagi pembangunan manusia dan masa depan umat.
16.
Membantu
usaha pencapaian tujuan umum universitas ke arah penguatan kembali kendudukan
islam dalam semua aspek ilmu pengetahuan sebagai kesinambungan terhadap tradisi
Islam dalam mencari ilmu dan kebenaran sebagaimana yang tergambar dalam tujuan
universitas.
17.
Menumbuhkan
pusat informasi dan dokumentasi dan juga biro penelitian sendiri.
18.
Melaksanakan
secara umum semua urusan lain yang sah yang dilihat sebagai tambahan atau
membantu pencapaian urusan-urusan di atas atau salah satunya dalam melaksanakan
bidang-bidang kuasa ISTAC.
Semua tujuan praktis ini pun sarat
dengan semangat keilmuan untuk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam
dan menempatkannya lebih tinggi dari peradaban lain, khususnya Barat. Dengan
pengalaman Panjang hidup di barat, al-Attas bukan semakin merendah kepada
barat. Justru dia berusaha membuktikan bahwa islam juga mampu melakukan yang
lebih baik dari barat.
Islam memiliki konsep Pendidikan
yang ideal untuk melahirkan manusia yang baik, manusia yang beradab dalam arti
memiliki otoritas keilmuan yang universal.
Tujuan dirumuskan al-Attas ini bukan
hanya ditulis tanpa pengalaman. Selama memimpin di ISTAC, al-Attas sangat
menjaga komitmen yang telah dipikirkan dan disampaikan.
Adab dalam tujuanpendidikan di ISTAC
ini penting untuk diperhatikan. Di tengah kuatnya ajakan untuk menjadikan
perguruan tinggi mendapat predikat World Class University dan ingin
dianggap yang terbaik didunia oleh Lembaga-lembaga di barat, al-Attas justru
bertahan dengan prinsip dan keyakinannya. Sehingga selama dipimipin oleh
al-Attas tujuan Pendidikan yang dirumuskannya itu tidak berubdah demi
kepentingan kapitalis.
Ternyata, sikap teguh pendirian
al-Attas ini tidak menjadikan ISTAC sebagai perguruan tinggi kelas bawah.
Justru selama dipimpin oleh al-Attas, ISTAC berhasil membuat berbagai program
keilmuan yang berkualitas, karya yang bernilai tinggi, sehingga pengakuan
terhadap ISTAC datang dengan sendirinya dari dunia. ISTAC tidak perlu mengikuti
kemauan Lembaga-lembaga di barat untuk menulis jurnal sesuai kriteria mereka.
Atau membuat banyak seminar hanya untuk mendapat penilaian Lembaga-lembaga di
barat, kemudian naik peringkatnya. Sepertinya al-Attas ingin menunjukkan kepada
barat, bahwa Islam juga memiliki perguruan tinggi yang hebat, unggul dan mampu
bersaing dengan universitas di barat seperti Oxford, Cambridge, dan sebagainya.
· Aplikasi
Adab dalam Metode Pembelajaran
Menurut Al-atas Muatan Pendidikan tinggi
menjadi prioritas terpenting dari pada metodenya, tapi untuk Pendidikan dasar
metode masih sangat perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan Pendidikan.
Setelah mewawancarai 2 murid Al-atas dan membahas
juga tentang Wan Mohd Nor Wan Daud, Ada beberapa metode Pendidikan dari
Al-atas, yaitu :
1. MetodeTauhid
Metode ini dipraktikkan al-Attas sebagai metode Tauhid dalam ilmu
pengetahuan. Pola pikir islam berbeda dengan barat dalam hal memandang sesuatu.
Dalam dunia Pendidikan misalnya, antara teori dan praktik menjadi satu
kesatuan. Sama seperti konsep tauhid yang menyatukan.
2. Diskusi
Salah satu kebiasaan al-attas setelah mengajar adalah diskusi. Ia
memberi kesepatan murid-muridnya untuk mengkritisi materi yang disampaikannya,
asalkan juga dengan argument ilmiah.
Beliau
bersikap sebagaimana para ulama terdahulu dengan cara diskusi dengan adab,
yaitu bila seseorang tidak bisa membuktikan kesalahan dari orang lain maka
harus menerimanya.
3. Perumpamaan
(Tamsil/Metafora)
Metode ini juga menjadi salah satu metode yang digunakan dalam al-quran
dan hadist, metode ini dapat mempengaruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang
diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan.
4. Cerita
Bercerita adalah salah satu cara penanaman adab terbaik dalam Pendidikan
islam. Al-attas sering bercerita sebagai media untuk membantu menjelaskan suatu
pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah. Beliau menceritakan cerita-cerita
hikmah yang sangat sarat dengan nilai dan pelajaran.
Untuk memberikan jawaban yang memuaskan dari pernyataan bahwa kurikulum
ISTAC berat dan ISTAC akan sepi peminat, al-Attas menjawab dengan cerita
mengenai rubah betina dan singa betina untuk menggambarkan prioritas penekanan
pada kualitas dan kuantitas.
5. Penugasan
Untuk mendidik murid al-attas kadang juga memberikan tugas kepada mereka
kemudian ada juga yang sampai menggantikan jadwal beliau untuk mengisi seminar.
Hal ini dilakukan untuk membentuk Pendidikan learning by doing.
6. Nasehat
Karena dalam Pendidikan merupakan masalah
yang penting dalam agama maka dalam proses Pendidikan harus ada penyampaian
nasehat. Nasehat yang baik dari guru yang baik akan menjadikan murid lebih
mudah untuk mengamalkan seluruh nasehat itu.
Al-attas termasuk salah satu ilmuwan
kontemporer yang banyak memberikan nasehat, bahkan cara beliau menasehati
sangat memperhatikan adab, sehingga bagi para murid nasehat tersebut bagaikan
obat dari dari seorang dokter. Pernah al-attas menasehati dengan cara yang
keras, namun menurut murid-murid al-attas, al-attas melakukan dengan dasar
ikhlas dan cinta terhadap murid-muridnya.
7. Reward dan
Punishment
Dalam mendidik muridnya al-attas juga
menerapkan keadilan. Jika melakukan kebaikan maka balasannya juga baik dan
sebaliknya.
Sebagai contoh, pernah al-attas menemui ada
murid yang memiliki paper yang bagus maka al-attas memberikan apresiasi,
sebaliknya kepada murid yang kurang memperhatikan adab maka al-attas tidak
segan mengingatkan bahkan memberhentikan mahasiswa tersebut jika tidak mau
berubah meskipun mahasiswa tersebut memiliki keunggulan intelektual.
Dari sini bisa dilihat betapa al-attas
sangat memperdulikan adab itu sebelum ilmu, sebab ilu ditangan orang tidak
beradab tidak akan membawa kebaikan dan manfaat.
8. Keteladanan
Keteladanan merupakan metode paling penting
dalam Pendidikan. Dalam mendidik murid-muridnya, al-attas bukan hanya
memberikan contoh yang baik, tapi juga menjadi contoh yang baik.
Keteladanan
yang nampak dari al-attas adalah keikhlasannya. Apapun yang dilakukannya
semata-mata karena allah ta’ala dan kemaslahatan ummat. Bukan mencari
popularitas, ataupun keuntungan duniawi lainnya.
Inilah
metode yang digunakan al-attas dalam mendidik murid-muridnya selama di ISTAC.
Bukan hanya konsep dan teori, akan tetapi juga langsung pada tataran praktis.
Disni ada pelajaran penting untuk berguru kepada ilmuwan yang sangat
memperhatikan adab secara langsung. Dengan belajar langsung kepada guru,
seorang murid akan mendapatkan pelajaran sekaligus pengalaman yang berharga
selama berguru kepadanya.
· Aplikasi
Konsep Adab dalam Kualifikasi Guru
Konsep adab
al-attas juga diaplikasikan dalam merekrut dan menjalin hubungan dengan guru
yang mengajark di ISTAC. Hal pertama yang menjadi perhatian al-attas dalam
kualifikasi guru adalah kewibawaan dalam spesialisasi masing-masing dan
kesediaan memahami filasafat islam secara menyeluruh.
·
Aplikasi
Adab dalam Evaluasi Pendidikan
Evaluasi Pendidikan
al-Attas merujuk pada suatu hadits yang berisi ciri-ciri orang munafik. Yang
artinya “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara dia berduta, jika
berjanji dia ingkar dan jika dipercaya dia berkhianat.
Oleh karena itu, al-Attas berpandangan bahwa Pendidikan tinggi
bukanlah hak setiap orang. Syarat untuk menuntut ilmu tidak cukup hanya
bermodalkan kemampuan intelektual sematam tapi juga harus memperhatikan masalah
adab dan moral. Jika aspek adab diabaikan, dan semua orang berhak belajar di
tingkat perguruan tinggi, maka akan muncul pemimpin-pemimpin yang zhalim di setiap
bidang kehidupan. Sarjana hokum tapi melanggar hokum. Sarjana ekonomi tapi
merusak sistem ekonomi. Sarjana Pendidikan tapi melakukan kecurangan, dan
sebagainya.
Dengan menyandingkan
adab yang merujuk kepada Ulama atau ilmuwan yang otoritatif berarti seseorang
itu telah menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukannya. Pandangan evaluasi
Pendidikan al-Attas ini mirip dengan konsep maqam tradisi sufi, dimana seorang
murid tidak boleh naik ke maqam selanjutnya sebelum adab-adab dimaqam yang
dijalaninya tertanam dengan baik. karena para ulama sejak dulu sudah
menjelaskan bahwa adab memiliki kedudukan yang lebih penting dari ilmu.
·
Aplikasi
Adab dalam Sarana dan Prasarana
Aplikasi adab dalam
sarana dan prasarana yang diamalkan oleh al-Attas, khususnya di ISTAC bisa
dilihat dari beberapa hal, antara lain ; al-Attas melarang para pekerja untuk
menebang pohon – pohon tua yang ada di sekitar lahan ISTAC yang sebagiannya
sudah berusia lebih dari seratus tahun. Ini adalah pengamalan adab terhadap
alam sekitar. Al- Attas tidak merusak alam dan memanfaatkannya sesuai dengan
yang dibutuhkan.
Dari aspek spiritual,
al-Attas membuat posisi gedung ISTAC menghadap kiblat. Memulai pembangunannya
pada tanggal yang bersejarah dalam islam, yaitu tanggal 27 Rajab 1410 H, bertepatan
dengan 23 Februari 1990. Sejarah Islam mencatat bahwa pada tanggal 27 Rajab ada
peristiwa luar biasa, yaitu Isra’ Mi’raj. Perjalanan Nabi Muhammad s.a.w dari
Masjid al-Haram ke Mesjid al-Aqsha, yang dilanjutkan sampai menembus tujuh
lapis langit dan tiba di Sidratil Muntaha untuk menerima kewajiban
shalat fardhu lima waktu.
Pembangunan ini dimulai
dengan sedikit ritual sederhana, yaitu membaca doa, memohon kepada Allah agar
usaha al-Attas dalam membangun kampus ISTAC ini mendapat keberkahan. Lalu untuk
merefleksikan konsep manusia sempurna atau insan adabi,, al-Attas
membuat sendiri logo ISTAC.
Logo ISTAC
Menurut al-Attas, meletakkan nama Nabi Muhammad SAW di tengah logo
itu adalah lebih fundamental dan programatis. Alasannya adalah karena al-Qur’an
dan agama islam tidak bisa dipahami dan diamalkan secara benar tanpa menerima
keutamaan Nabi Muhammad s.a.w. Otomatis menerima al-Qur’an, tapi tidak
sebaliknya. Sehingga ada yang mengaku islam, tapi tidak mau mengikuti Nabi
Muhammad s.a.w, menolak hadits dan sunnah-sunnahnya.
Selain itu, meski
al-Attas ingin menampakkan keunggulan peradaban islam pada dunia, namun ia
tetap menghormati kebaikan-kebaikan yang ada pada peradaban lain. Hal ini bisa
terlihat bukan hanya pada peradaban lain. Hal ini bisa terlihat bukan hanya
pada kurikulum Pendidikan di ISTAC sendiri. Selain melambangkan peradaban
islam. al-Attas juga memilih landskap yang melambangkan peradaban Barat dan
Cina.
Dengan ketinggian etika
dan estetika, bangunan ISTAC yang didesain al-Attas bisa membuat kagum setiap
orang yang mengunjunginya. Professor bidang arsitektur dari Kanada, Gulzar
Haider, pernah menyampaikan kesannya ketika melihat bangunan ISTAC
Usaha al-Attas
membangun gedung ISTAC yang indah bukan tanpa alasan. Menurut Wan Mohd Nor Wan
Daud, ketika menunjukkan gambar arsitektur bangunan ISTAC pertama di Jalan
Damansara, al-Attas sering menyampaikan bahwa “kebanyakan manusia adalah ahli
zahir yang hanya dapat menilai kehebatan luaran sesuatu, sayangnya mereka tidak
berupaya menikmati dan menilai kehebatan akliah dan rohaniah yang bersifat
dalaman. Inilah semangat tinggi al-Attas yang ingin menunjukkan keunggulan
islam kepada peradaban lain.
Kemudian, koleksi
perpustakaan dipenuhi dengan karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dan
otoritatif. Berbagai manuskrip, buku, jurnal, dan koleksi karya-karya ilmiah
dalam berbagai bahasa. Aplikasi konseo adab pada sarana dan prasarana di ISTAC
seperti ini memang membutuhkan biaya yang tinggi. Oleh karena itu selain
merancang konsep, kurikulum dan hal-hal teknis terkait Pendidikan, akan lebih
baik jika al-Attas juga berusaha membuat ISTAC mandiri secara finansial. Hal
ini agar operasional ISTAC tidak bergantung pada bantuan dari luar atau dari
pemerintah. Usaha itu bisa dalam bentuk wakaf produktif atau unit-unit usaha
yang dikelola dengan professional untuk mendanai semua kegiatan Pendidikan di
ISTAC yang membutuhkan biaya tinggi itu.
Aplikasi Konsep Adab Syed Muhammad
Naquib al -Attas Di Perguruan Tinggi Indonesia
Didalam pasal 5 UU No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi ada
empat tujuan pendidik tinggi sebagai berikut :
1.
berkembangnya
ptensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
yang Maha Esa dan berakhlak Mulia, Sehat , berilmu cakap kreatif, Mandiri,
terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa
2.
dihasilkan
lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan /teknologi untuk memenuhi
kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa
3.
Dihasilkan
ilmu pengetahuan dan Teknologi melalui penelitian yang memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan
peradaban dan kesejateraan umat manusial dan
4.
Terwujudnya
pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya peneltian yang
bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
Tujuan Pendidikan ini merupakan adaba untuk diterapkan di sehari
hari,adab merupkan Pendidikan tinggi untuk memeiliki jiwa peran penting untuk
beradab dan melahirkan satu kemanusiaan manusia yang beradab.Dasar beradab
adalah memiliki keimanan,ketakwaan, akhlak mulia , ilmu pengetahuan, penelitian
yangbbermanfaat dan soiap menjalan suatu bekerja untuk mengamalkan kemaslahtan
umat.Agar ingn mewudukan suatu tujuan Pendidikan tinggi mungkin seperti akan
sedikit mudah.Di jenjang pndidikan tinggi banyak sekolah yang tidak memiliki
jiwa beradab dan banyak hilangnya adab(the loss of adab) disuatu perguruan
tinggi maka dari itu kita harus menerapkan adab ini sesuai adab syed muhammad
Naquib Al Attas
Banyak sarjana yang melakukan kecurangan dalam membuat ijazah palsu
banyak dikampus fiktif yang melakukan seperti itu.Dikampus fiktif banyak
nama-nama baik yang tercoreng akibat olah okmu akademisi dan masyarakat
bermental pragmatis yang berambisi untuk
mendapatkan gelar diwaktu tepat maka ini juga kepentingan sosial ekonomi
semata. Ditingkat pascasarjana biasa terjadi di masalah menyontek berbagi
kecurangan yang dilakukan guru-guru terbesar dikampus Pendidikan Tinggi. Biasa
di tingkat internasional, seprang mahasiswa indoesia yang ingin kuliah di luar
negeri akan membuat masalah sejumlah klaim yang hanya berupa kebohongan.kasus
ini akan menambah buruk pandangan masyarakat Indonesia mengenai Pendidikan
Tinggi
Maka dari itu masalah
yang terjadi di Indonesia jika ada Pendidikan seperti ini segera diambil
Tindakan, jika tidak segera masalah akan leboh buruk dijenjang Pendidikan
Tinggi.
Data kementerian riset, tekonologi dan Pendidikan Tinggi program
studi dari 4.559 perguruan Tinggi diseluruh Indonesia.Banyak Sekolah SMA yang
melanjutkan kejenjang Pendidikan tingi di Indonesia maupun diluar negeri Biasa
lulusan pendidika Tinggi ,khususnya dari program studi Pendidikan yang akan
menjadi guru dijenjang yang lebih tinggi dan rendah. Banyak Guru dan murid
belum menanaman adab dalam diri mereka maka dari itu kita harus memiliki adab.
·
Mengsosialisasaikan
Tujuan Adab Pendidikan Sebagai Proses
Menananmkan Adab (ta’dib) .
Sebagaimana
konsep adab al Attas, bahwa tujuan Pendidikan dalam islam adalah untuk
melahirkan manusia yang baik, dan inti dari Pendidikan dalam islam adalah
penanaman adab. Dalam islam, setiap perbuatan yang harus disertai dengan niat
yangb baik. Makan perlu nist yang baik, belanja perlu niat yang baik, apalagi
menurut iilmu yang nilainya lebih tinggi dari makan dan belanja.
Para ulama juga telah mengingatkan pentingnya niat dalam prose
smenuntut ilmu.Imam al-Ghazali menj^takan bahwa orang yang salah niat dalam
menuntut ilmu, seperti niat untuk berbangga diri,aplikasi konsep adab Syed
Muhammad Naquib Al-Attasdi Pergunian Tinggi di Indonesiaharta ,atau mencari
perhatianmanusia, pada hakikatnya adalah
ia sedang berusaha menghancurkan agamanya, dan menjual akhiratnya dengandunia.
Agar keihlasan dalam menuntut ilmu tertanam pada diri mahasiswa, Maka
perlu diawali dengan takziatum nafs atau penyucian jiwa. Ini adalah salah satu
unsur terpenting dari adab menuntut ilmu. Para ulama senantiasa mengingatkan
pentingnya penuntut ilmu menyukian jiwa dari niat – niat yang salah, dan dari
sifat- sifat yang tercela sebelum masuk mempelajari ilmu. Jika jiwa sudah
bersih dan baik maka proses selanjutnya akan menjadi baik, dan akan melahirkan
hasil yang baik juga.
Tanpa penyucian jiwa, ilmu yang masuk kedalam diri seseorang akan
menjadi tidak baik. Ilmu menjadi rusak, tidak bermanfaat dan tidak akan membawa
kebahagiaan. Tujuan Pendidikan untuk melahirkan manusia yang beradab hanya akan
berhasil jika sejak awal ada proses pembelajaran di kampus, agar niat yang baik
selalu terjaga.
Jika nantinya mahasiswa menjadi dokter,maka dia akan menjadi dokter
yang baik, yang senantiasa bertindak sesuai dengan ridha Allah s.w.t. Dokter
yang baik tidak akan melakukan malpraktik kepada pasiennya, karena itu tidak di
ridhai Allah s.w.t.
Oleh karena itu, para ulama, khususnya di bidang Hadist membuat
kesepakatan bahwa semua sahabat itu bersifat adil ( kullu al – sbababab ‘udul).
Inilah prestasi yang tidak bisa di tandingi oleh peradaban manapun hingga saat
ini. Caranya, tujuan Pendidikan yang sudah baik itu harus di turunkan kedalam
kurikulum Pendidikan berbasis adab yang memanusiakan manusia.
Dengan demikian akan sesuai antara tujuan dan jalan yang di
tempuhnya.
Menurut Adian
Husaini, saat ini ada dua tantangan besar yang dihadapi dunia Pendidikan
islam.Pertama, godaan materialisme. Kedua, system Pendidikan sekuler.
·
Menyusun
Kurlikulum Pendidikan dengan klasifikasi ilmu – ilmu fardhu ‘ Ain dan Fardhu
khifayah
Untuk menjawab tantangan kurlikulum
Pendidikan yang sekuler ,perguruan tinggi islam harus merumuskan kurlikulum
Pendidikan yang sesuai dengan konsep Pendidikan islam . seyyed Hossein nasr
mengingatkan bahwa salah satu faktor rusaknya Pendidikan modern adalah karena
hilangnya klasifikasi ilmu sebagaimana yang pernah ada dalam tradisi keilmuan
islam .
setiap ilmu tidak sama , baik secara
ontologi, epistemologi, aksiologi dan metodologi. ilmu juga sangat banyak ,
tidak mungkin di kuasai semuanya . Oleh karena itu klasifikasi ilmu ini menjadi
penting untuk dilakukan agar penuntut ilmu bisa membekali kebutuhannya dan
menjadi jalan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat . selain itu dia juga
harus mempelajari ilmu – ilmu lain yang di butuhkan dalam usaha membangun
peradaban islam .
Mengacu pada undang undang di atas ,
perguruan tinggi islam memiliki kesempatan untuk Menyusun kurlikulum Pendidikan
berbasis adab sebagaimana yang telah diaplikasikan al – Attas di ISTAC . Rumpun
keilmuan yang disebutkan di attas harus di susun secara hierarki agar mampu
melahirkan sarjana muslim yang beradab . Pada bagian ini penulis menawarkan
kurlikulum Pendidikan berdasarkan klasifikasi ilmu fardhu’ain dan fardhu
kiffayah . untuk kategori ilmu – ilmu yang fardhu ‘ ain ada lima disiplin
ilmu yang wajib di kuasai setiap mahasiswa .
Setelah mempelajari ilmu – ilmu yang
fardhu ‘ ain ini , Mahasiswa di bimbing dan di arahkan untuk memilih disiplin
ilmu lainnya sesuai dengan minat dan bakatnya . dengan sejumlah jurusan yang
ada , jika mahasiswa di berikan kesempatan mengambil mata kuliah lintas jurusan
tentu menjadi lebih baik . Dengan demikian mahasiswa fakultas ekonomi tidak
hanya memahami masalah psikologi , hukum , komunikasi dan sebagainya . Begitu
juga dengan mahasiswa fakultas psikologi , fakultas matematika dan ilmu
pengetahuan alam ( MIPA ) , Fakultas ilmu – ilmu sosial dan politik (FISIP) Dan
sebagainya bisa mengambil manfaat disiplin ilmu dari fakultas yang berbeda .
Dengan aplikasi model kurlikulum
seperti ini di harapkan mahasiswa memiliki otoritas di beberapa bidang keilmuan
. Bukan ilmuwan yang hanya ahli dalam satu bidang keilmuan karena mengambil
spesialisasi yang sempit . inilah Langkah untuk melahirkan manusia yang beradab
sekaligus manusia universal sebagaimana yang dirumuskan al – Attas dan para
ulama sebelumnya .
· Membuat Program dan Metode
Pendidikan Berdasarkan Prinsip al-Ta’adub Tsumma al-Ta’allum
semua program pembelajaran
yang dibuat harus mengandung adab dan ilmu. misalnya , membuat program atau
kinerja tbabarab qabla al-dirasab (bersuci sebelum belajar). Aplikasinya,
sebelum memulai pembelajaran di kelas atau kampus, mahasiswa diminta untuk
berwudhu atau bersuci terlebih dahulu. Ini menjadi bagian dari adab terhadap
ilmu. Menurut al-zarnuji dalam karyanya yang terkenal dan tersebar luas, ta’lim
al-muta’alim, mengatakan ilmu itu cahaya, wudhu juga cahaya, oleh sebab itu
ketika seorang menuntut ilmu dalam keadaan menjaga kesucian dirinya atau wudhu
maka cahaya yang diperolehnya menjadi dua kali lipat. Pengaplikasian wudhu
sebelum belajar ini meski terlihat sederhana atau tidak sering diperhatikan
akan memiliki dampak positif yang luar biasa jika di amalkan dengan istiqomah
dan ikhlas.
Program lain yang bisa di
aplikasikan misalnya kbidmab ammab (pelayanan social). Aplikasinya setiap
mahasiswa diberikan tugas harian untuk menyampaikan kultum sehabis sholat,
mengajar membaca al qur’an, menulis artikel ilmiah, dan lain sebagainya.
Dan masih banyak
sebenarnya program-program Pendidikan berbasis ilmu adab yang dapat di buat.
Untuk nama program nya sendiri juga pun bisa kita sesuaikan sendiri dengan
target yang ingin kita capai. Yang terpenting adalah cara kita menjalankan
program nya harus terjaga kualitas dan kontinuitas agar programnya bisa
menghasilkan hasil yang positif, baik itu buat pelajar maupun orang yang sudah
bekerja.
Dua prinsip metode
Pendidikan yang penulis maksud adalah al-taaddub tsumma al-taallum (beradab
kemudian berilmu). Kedua prinsip ini harus selalu menjadi panduan dalam
aplikasinya. Prinsip ini sebagaimana
dikatan Umar ibn al-khattab taaddabu tsumma ta’allamu yang berarti carilah adab
kemudian carilah ilmu. Begitu juga dengan pandangan para ulama lain yang sangat
memperhatikan masalah adab selain ilmu. Artinya, setiap mahasiswa diizinkan
belajar berbagai disiplin ilmu jika adab sudah tertanam dan diamalkan dalam
kehidupan sehari hari. Maka harus ada kajian tentang adab, keteladanan,
pembiasaan dan kedisplinan.
Mahasiswa yang tidak
mengamalkan adab dengan baik tidak diperkenankan melanjutkan studinya ke bidang
ilmu yang lain. Sebab ilmu di tangan orang yang tidak beradab akan melahirkan
kezhaliman dan ketidakadilan. Inilah akibat dari hilangnya adab yang sering
disampaikan al-attas.
Dalam proses pembelajaran
di kelas adab juga harus di amalkan. Kehadiran tepat waktu, kesungguhan
mengikuti jalannya perkuliahan, dan penyerahan tugas sesuai dengan ketentuan
dari dosen juga harus terus disampaikan dan diingatkan kepada mahasiswa.
Dengan dua prinsip metode
Pendidikan ini, maka kurikulum Pendidikan yang ada selalu mengandung adab dan
ilmu. Sehingga tidak hanya transfer of knowledge semata. Sebaik apapun materi
ilmu yang disampaikan jika tidak disertai dengan penanaman adab maka tidak
menghasilkan kebaikan. Kedua prinsip ini sepertinya sudah baku dan menjadi
kesepakatan dalam Pendidikan islam. Dikalangan umat islam Indonesia baik yang
dari NU, Muhammadiyah, al-irsyad, salafi, dan sebagainya tidak ada khilafiyah
tentang pentingnya adab dan ilmu. Dengan dua prinsip ini sejarah mencatat bahwa
para ilmuwan muslim bukan hanya memiliki ilmu yang luas tapi juga adab yang
mulia bagi umat manusia.
·
Mengoptimalkan
Peran Dosen yang Peduli dan Menjadi Teladan
Dalam Pendidikan, guru adalah peranan penting. Sebagai seorang guru
harus menyadari tugasnya bukan hanya tujuannya, karena jika guru tidak
mempunyai kepedulian kepada seorang murid dalam artian mengajar tanpa
menggunakan cinta akan berdampak buruk kepada muridnya. Seorang murid juga
harus belajar bersungguh – sungguh karena antara murid dan guru saling bergantung,
banyak yang berpendidikan tinggi tapi tidak beradab. Adab seorang guru juga
harus di optimalkan seperti meghargai waktu dan menghargai murid juga, sebab
merekalah yang pertama akan dicontoh oleh muridnya. Setiap kali melihat hal
yang tidak sesuai dengan adab harus memperhatikan agar tidak berdampak buruk
bagi yang lainnya juga.
Nabi Muhammad s.a.w. berhasil mendidik para sahabat karena beliau
menjadi contoh/teladan yang baik dalam segala hal. Rasulullah s.a.w. menanamkan
adab kepada para sahabat melalui bukti bahwa di dalam dirinya bahwa adab sudah
tertanam dahulu. Sebab itulah yang harus kita perhatikan, selain mengetahui dan
mengahafal ilmu tersebut alangkah baiknya kita pahami dan juga amalkan, karena
ilmu tanpa amal adalah sia-sia.
Dari titik pandang agama islam sendiri, guru tidak boleh seperti
lilin yang menerangi sekitarnya sementara dia sendiri habis terbakar, yang
artinya guru tidak hanya memperhatikan kebaikan muridnya tapi juga harus
memperhatikan kebaikan pada dirinya sendiri. Rasulullah juga menyampaikan
ancaman Alllah terhadap orang berilmu tapi tidak beramal, siksa yang pedih bagi
mereka yang memerintahkan kebaikan tapi mereka sendiri mengingkarinya.
Guru pada hakikatnya adalah penerus tugas para Nabi unutuk mendidik
para umat. Maka seorang guru harus memiliki sifat-sifat terpuji yang dimiliki para Nabi supaya menghasilkan
siwa/siswi yang baik, berhasil tidaknya sbuah tujuan dari pendidikan akan
sangat bergantung pada guru dalam menjalankan peran sebagai pendidik. Adab
sebagai pendidik harus dipahami dan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari
agar penanaman adab kepada mrudinya juga tercapai dan itu bukan hal yang mudah
untuk dilakukan bagi seorang guru, karena butuh kesabaran bagi seorang guru
mengajar hal baik terutama kepada murid yang nakal/susah diatur, yang dimana
itu sering dijumpai di sekitar lingkungan kita.
Catatan bagi para guru-guru juga harus memahami Tridarma dengan
baik, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta
pengabdian pada masyarakat. Ketiga tugas pengajar ini adalah wujud/bentuk dari
perpaduan ilmu dan amal. Tidak cukup memberikan contoh kebaikan tapi juga harus
menjadi contoh dalam kebaikan. Demikian juga hal buruk harus diajuhi oleh para
pengajar agar ilmu tetap terjaga sesuai tempatnya.
Jadi guru yang baik itu tidak hanya mengajar muridnya agar pintar
tapi juga harus megajar mereka unutk menjadi orang yang baik melalui sikap guru
sendiri disaat bertugas ataupun tidak. Negara ini tidak kekurangan orang pintar
tapi kekurangan orang baik. Keadilan di negeri ini sendiri pun masih kurang
terasa, begitu juga bidang-bidang keilmuan yang lain.
Pintar tidak menentukan baiknya kepribadian seseorang, beigtu juga
dengan kebodohan tidak menentukan bururknya kepribadian. Maka dari itu menanamkan
adab pada diri sendiri sejak dini untuk ketenteraman hidup umat, dan pada
akhirnya keduanya saling bergantungan antara murid dan guru. Jika keduanya
bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran pendidikan itu akan menghasilkan
output yang baik.
Merumuskan Sistem Evaluasi Pendidikan Berdasarkan Adab dan ilmu
evaluasi penting tapi tidak
boleh diabaikan,evaluasi adab menjadi Pendidikan berbasis adab memliki kriteria
sebagai berikut :
1.Evaluasi Pendidikan Harus Memadukan Antara Adab dan ilmu
Pendidikan yang beradab akan berevaluasi tetapi juga menjadikan
unsur adab sebagai unsur utamadalam Pendidikan.pengalaman sehari hari yan
dilakukan mahasiswa akan menentukan kelulusannya dalam mata kuliah dan ujian
skripsi. Kehadiran kelas, ibadah , pergaulan,penampilan dan untuk mendapatkan
perhatian mahasiswa menjadi pertimbangan lulus atau tidak. Misalnya mahasiswa
terlambat akan diberi peringatan dan yang berulang ulang kali mahasiswa akan
tidak diluluskan untuk mata kuliah yang diambilnya.yang tidak menutup aurat atau
mahasiswa yang tidak sholat subuh tidak boleh ikut kulih dan akan sidangnya
ditunda satu semester.maka mahasiswa
bukan hanya pintar tapi juga menjadi baik
Evaluasi Pendidikan Tidak Terikat tempat dan waktu
Adab ini bukan untuk
ujian tertulis atau (uts) Ujian akhir semester .adab itu harus menjalani setiap
hari kita melakukan aktivitas. Semua orang itu harus memiliki jiwa yang beradab
agar siswa menyadari untuk memperbaiki. Siswa itu mesti punya pelanggaran
adab,segeran dilakukan teguran lisan suran peringatan atau sanksi.ada ini
pernah dilakukan Rasulullah s.a.w yang pernah dilakukan sabahabtnya saat shalat
yang tidak sesuai. Kemudian Sahat diminta Rasulullah untuk mengulangi Kembali
shalatnya yang benar. Sabdda Rasulullah beliau mengatakan “Kembali ke tempatmu
lalu shalatlah, karena tadi engkau belu, belum shalat (irji’fa shalli fa innaka
lam tsuballi) lalu cara nabi yang benar mengajarkan sabahatnya. Setiap kali
mahasiswa mengamalkan adab dengan baik,untuk membawa nama baik universitas,
maka layak untuk menerima penghargaan
Evaluasi Pendidikan dirumuskan untuk mencapai Tujuan tertinggi
Pendidikan, yaitu mencari RIdha Allah s.w.t
Prinsip ini harus disampikan kepada mahasiswa, karena adalah untuk
mewujudkan tujuan Pendidikan. Meraih Nilai yang tinggi diatas kertas adalah
baik,diiringi dengan mencari ridha allah swt.Yang maha tinggi. Nilai yang
tertulis dalam ujian sejolah dan predikat tinggi dalam ijazah tidak akan
bernilai tidak ada ridha allah s.w.t.
untuk mengamalkan Pendidikan maka diperlukan kemauan dan keberanian mahasiswa
untuk menilai dirinya.artinya mahasiswa harus melibatkan proses evaluasi agar
berani memberi nilai pada dirinya. Dalam adab yang diamalkan sehari hari, untuk
mahasiswa yang memiliki kartu evaluasi adab harian . hasil penilain terhadap
drinya itu harus menjadi salah satu unsuru dalam evaluasi kelulusan mahasiswa.
Nilai tidak menjadi turunnya adab belum diamalkan secara optiml. Naum
disampaikan dengan jujur lebih tinggi dari nilai indexs prestesi kumulatif(IPK)
yang diacapainya
Evaluasi Pendidikan tidak bersifar statis tetapi dinamis sesaui
dengan jenjang yang ditempuhnya
Setiap jenjang memiliki Pendidikan yang berbobot materi yang
berbeda. Tingkat mahasiswa tidak boleh berhenti pada satu tingkatan saja.
Pendidikan untuk tingkat sarjana harus berbeda pada tingkatan. Pendidkan untuk
tingkat sarjana berbeda dengan magister dan doctor,. Dan itu Pendidikan harus
pada jenjang yang lebih tinggi.Al attas memiliki pandangan bahwa Pendidikan
tinggi bukanlah hak setiap orang layak untuk ketingkat selanjutnya bukan
sekedar berdasarkan kemampuan sosial dan
ekonomi. Pertimbangan yang menjadi dasar pendidiakn yangberadab. Pendidikan
dibarat tidak menjadikan penananam adab sebagai tujuan utama Pendidikan adalah
pengembangan sifat sifat intelektual. Bahwa adab atau sifat sifat moral dan
sipitual ity tidak terlihat jelas.pandangan al- attas bahwa meski tidak mudah,
namun aplikasi ini harus dilakukan. Karen dalam pandangan islam ,sifat yang
harus tidak terpisah yang bersifat kognitif dan behavioral.kosnep keimanan
dalam islam tidak melibatkan hati dengan lisan dan pengalaman dan anggota
badan. Dengan merujuk pada hadist munafik, seperti berdusta, mengimgkari janji
dan mengkhianati Amanah
Sesorang, seseorang boleh melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi jika mampu menjauhi orang munafik. Yang bersifat Amanah dana
kesetiaan kita harus menyesuikan kependidikan jenjang yang ditempuh. Sehingga
siswa yang ke tingkat doctor bisa menjadi teladan bagi siswa di jenjang
magister.
Evaluasi Pendidikan besifat
menaikkan dan menurun
Maha siswa yang beradab bukan menjadi utama melanjutkan jenjang yang lebih tinggi.
Adab menurunkan orang dari jenjang Pendidikan ke jenjang yang ditempuh.
Mahasiswa yang beadab diberi kesempatan untuk melanjutkan jenjang Pendidikan.
Didalam keilmuan islam, ada ilmu al-jarb wa ta’dil untuk me
krediniltas seorang periwayat hadist.hadist ini diterima atau ditolaj itu
bisanya bersifat lemah.dalam tradisi sufi adalah maqmat sebagai jenjang
Pendidikan melalu seorang slaik. Dalam dunia pendidikan modern kosnep ini ahli hadist dan sufi tetapi relevan.hadist ini ditinjau sedikit
atau banyaknya yang dihapal dan disampaikan ,tapi dari baik atau tidaknya adab.jiak orangbaik menghafal hadist dengan jujur ,Amanah maka akan menjadi orang
orang tsiqab. Seorang yang tidak juror atau khianat banyak hapalan yang
disampikan akan turun menjadi golongan mungkar( diingakri) dan mardud(ditolak)
Dalam mewudukan Amanah pembukaan undang undang dasar 1945 yang
ingin mencerdasakn kehidupan bangsa. Kecerdasaan ini bermaksud agar pembukaan
UUD 1945 hanya kecerdasan intelektual, dan juga kecerdasaan emosional dan
spiritual. Maka kecerdasan yang pandangan islam pernah disampikan oleh
Rasulullah s.a.w Ketika ada seorang sahabat Anshar pernah bertanya”siapakah yang
dikatakan cerdas?” RASUlUllAH S.A.W. menjawab “ orang yang paling cerdas adalah
orang yang paling mengingat kematian dan paling bagus persiapannya menghadapo
kematian dalam yang rasullulah bersabda ,”orang yang cerdas orang mampu
mengendalikan hawa nafsu dan beramal untuk bekal kematian.
Menyiapkan sarana pendukung yang berkualitas Internasional
Sejarah mencatat, peradaban islam pernah memiliki sarana Pendidikan
secara Baitul Hikmah yang di bangun begitu megah dan lengkap sehingga menjadi
pusat inteleksual dan keilmuan pada saat itu. Untuk menjadi pusat kajian ilmiah
dan peradaban, dukungan sarana yang ideal merupakan keniscayaan
Semuanya di bentuk dengan memperhatikan etika dan esteika yang
tiggi oleh al – Attas, dan di letakkan di
tempat yang wajar sebagai adab terhadap bangunan itu. Sebab
kebanyakan manusia, menurut al Att – tas
adalah ahli zhahir yang sering kali menilai
sesuatu dari penampilan luar nya.
Oleh karena itu, menurut
penulis, idealnya perguruan tinggi harus menyiapkan asrama ubtuk dosen yang mengajar dan
mahasiswa yang belajar. Tujuanya, agar proses penanaman adab di perguruan
tinggi bisa terus terjaga. Dosen tidak hanya menjaga di kelas, tapi juga
menjadi teladan bagi mahasiswa yang ada dalam kehidupan sehari – hari.
Jika perguruan tinggi
Islam ingin menjadi pusat peradaban di masa yang akan dating, maka sarana dan
prasarana yang ada harus di persiapkan dengan baik. Sehingga orang – orang,
khususnya ilmuan benar – benar merasakan suasana ilmu dan peradaban setiap kali
kampus itu. Bahkan mereka akan Bahagia jika diberi kesempatan untuk melakukan
berbagai riset ilmiah karena didukung oleh sarana dan prasarana yang terbaik.
Kesimpulan
Konsep adab yang dirumuskan al-Attas sebenernya bukan konsep baru
di dunia Pendidikan dalam Islam. Konsep adab sebagai inti dari Pendidikan dalam
Islam seduah dibahas dan diaplikasikan sejak masa Rasulullah saw. Sahabat
tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan masa ulama sesudahnya. Namun, di era modern
ini konsep adab dilupakan banyak orang. Dalam konteks Pendidikan Islam di era
modern, al-Attas boleh dikatakan berjasa mengingatkan Kembali umat islam
tentang pentingnya konsep adab. Kemudian al-Attas mengeloborasi istilah adab
dan menghubungkannya dengan istilah-istilah kunci lainnya dalam islam seperti
hikmah, ilmu, adil, dan sebagainya. Kemudian al-Attas membuat definisi baru
yang berbeda dengan para ulama sebelumnya, termasuk dengan al-Ghazali yang
banyak mempengaruhi pemikirannya. Adab yang menjadi master idea dari al-Attas ini
memiliki kedudukan penting dalam peradabn Islam, yaitu sebagai asas dari
keadilan, asas daei Islamisasi Ilmu, dan asas dari universitas Islam.
Kajian tentang adab
sebagaimana yang dirumuskan al-Attas ini perlu mendapatkan perhatian serius
dari umat islam, khususnya yang terlibat aktif dengan dunia Pendidikan. Umat
perlu menyadari bahwa inti dari Pendidikan adalah bukan melahirkan orang-orang
berilmu semata, tapi juga menanamkan adab ke dalam diri yang disebut dengan
istilah ta’dib meski secara definisi konsep adab al-Attas ini baru, tapi secara
substansi sebenarnya sama dengan apa yang dipahami dan diaplikasikan oleh umat
islam di era terbaik (khayr al-qurun) dan era sesudahnya. Pemahaman dan
pengalaman adab dengan benar akan melahirkan manusia yang baik (Good Man) atau
manusia yang beradab (insan adabi) yang akan membangun Kembali peradaban islam.
Konsep adab al-Attas
tidak hanya bersifat teori. Meski konsepnya sangat filosofis, namun konsep adab
ini juga bersifat aplikatif dan praktis. Al-Attas telah memberi contoh
bagaimana adab itu terwujud dalam kehidupan. Lalu al-Attas mengaplikasikan
konsep adab itu secara spesifik di level perguruan tinggi. Selama memimpin di
ISTAC tahun 1987-2002 al-Attas telah mengaplikasikan konsep adab itu mulai dari
tujuan Pendidikan yang tidak bersifat pragmatis, tapi untuk melahirkan manusia
yang baik dengan kualifikasi adab dan otoritas keilmuan di beberpa bidang,
kurikulum Pendidikan dengan klasifikasi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah,
pemilihan guru dengan kualifikasi otoritas ilmu dan adab, metode Pendidikan
dengan memasukkan adab sebagai metode Pendidikan disamping metode yang lain,
evaluasi Pendidikan berdasarkan adab, akhlaq dan rujukan yang otoritatif dan
juga menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung Pendidikan dengan nilai
etika dan estetika yang tinggi. Bagian terkahir ini membuat al_attas berbeda
dengan ulama dan ilmuwan sebelumnya. Karya-karyanya, tapi juga mewujudkannya
dalam bentuk universitas islam yang dibangunnya. Meski akhirnya ISTAC diambil
alih dan tidak dipimpin oleh al-Attas, namun konsep adab masih terus hidup
sampai saat ini. Sebab pengambil alihan dan penutupan kampus ISTAC bukan karena
masalah di konsep adab dan aplikasinya di ISTAC, tapi karena ada masalah lain
yang Ketika itu sedang terjadi di Malaysia. Berbagai usaha al-Attas ini juga
menjadi bukti bahwa konsep adab yang dirumuskannya tidak bersifat abstrak
sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Sebagian ilmuwan muslim di Indonesia.
Usaha al-Attas memang tidak sempurna, tapi sudah membuahkan hasil yang baik dan
diakui oleh banyak kalangan. Pada bagian yang dinilai masih kurang itulah
menjadi peluang bagi kaum mislimin untuk menyempurnakannya.
Konsep adab al-Attas
ini juga tidak eksklusif, tapi berlaku secara universal. Artinya, konsep ini
bisa dipahami dan diaplikasikan di setiap tempat dan waktu. Penelitian saya
menunjukan bahwa konsep adab sebgaimana yang dirumuskan al-Attas bisa
diaplikasikan di perguruan tinggi di Indonesia. Dalam hal ini saya mengajukan
enam Langkah aplikasi konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas, yaitu,
1.
Mensosialisasikan
tujuan Pendidikan sebagai proses menanamkan adab diawali dengan tazkiyatun
nafs.
2.
Menyusun
kurikulum Pendidikan secara herarki dengan klasifikasi ilmu-ilmu fardhu ‘ain
dan ilmu-ilmu fardhu kifayah.
3.
Membuat
program dan metode Pendidikan berdasarkan prinsip al-taadub tsumma al-ta’allum
melalui kajian, pembiasaan, keteladanan dan kedisiplinan.
4.
Mengoptimalkan
peran dosen sebagai muaddib yang peduli dan menjadi teladan.
5.
Merumuskan
system evaluasi Pendidikan berdasarkan adab dan ilmu.
6.
Menyiapkan
sarana dan prasarana pendukung yang berkualitas
Komentar
Posting Komentar