Langsung ke konten utama

Imam Bukhari dengan Seribu Dinar

 


“Sebelum menyimak kisah ini, ada baiknya kita hitung dulu berapa banyak 1000 dinar itu. Kalau 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas murni, maka, 1000 dinar berarti 4.250 gram atau 4.25 kg. Jika 1 gram emas murni seharga Rp900.000, maka, seribu dinar senilai Rp 3,825 miliar. Angka yang tidak kecil.”


SEKARANG, mari kita baca! Kisah ini disebutkan oleh al-Imam Abdus Salam al-Mubarakfury dalam kitab Shirah al-Imam Al-Bukhari: ‘Apa yang Imam BUKHARI lakukan saat fitnah melandanya dirinya?

Bahwasanya Imam Bukhari pernah sekali mengarungi lautan di masa beliau masih menuntut ilmu. Pada waktu itu beliau membawa uang 1000 dinar (Rp 2,125 miliar) dan ini merupakan harta yang sangat banyak.

Kemudian datanglah kepada beliau salah seorang dari awak kapal. Lelaki tersebut menampakkan kecintaan dan kesukaan kepada sang Imam. Dia selalu berusaha mendekat dan, duduk dengan beliau. Ketika Imam Bukhari melihat kecintaan dan kesetiaan lelaki tersebut dan saking akrabnya, sampai-sampai beliau memberitahukan kepada lelaki itu tentang 1000 dinar yang beliau bawa di atas kapal.

Kemudian, pada suatu hari, lelaki tersebut bangun dari tidurnya dan tiba-tiba menangis, merobek-robek bajunya seraya memukul-mukul wajah dan kepalanya. Seluruh orang (penumpang) di atas kapal menjadi heran menyaksikan keadaan lelaki tersebut, tidak sedikit yang bingung dan terheran-heran. Ada apa? Di antara mereka kemudian mendatanginya dan menanyakan sebab musababnya, mengapa sampai begitu?

Lelaki tersebut akhirnya berkata, “Aku memiliki kantong yang berisi 1000 dinar akan tetapi kantong itu (tiba-tiba) lenyap dariku.”

Akhirnya semua orang sepakat mengadakan pemeriksaan satu persatu pada seluruh penumpang kapal. Lalu apa yang dilakukan Imam Bukhari? Di saat seperti itu, Imam Bukhari mengeluarkan kantong dinarnya, dan secara sembunyi-sembunyi beliau langsung melemparkannya ke laut.

Dan, benar, pemeriksaan terus berlangsung, sampailah ke beliau dan sampai usai. Walhasil pemeriksaan yang dilakukan secara ketat itu, tidak menjumpai apapun. Maka para pemeriksa kembali ke lelaki tersebut dan mencelanya habis-habisan.

Nah! Ketika orang-orang turun dari kapal, lelaki tersebut kembali mendatangi Imam Bukhari dan berkata: “Tuan! Apa yang engkau lakukan dengan kantong dinarmu?”

Imam Bukhari menjawab dengan datar: “Aku melemparkannya ke laut.”

Mendengar jawaban ini, lelaki tadi tertegun dan berkata, “Bagaimana engkau bisa bersabar atas hilangnya harta yang banyak darimu?”

Imam Bukhari kemudian menjawab: “Wahai orang bodoh, sesungguhnya aku telah menghabiskan seluruh umur dan hidupku untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah saw, dan seluruh dunia telah mengetahui ketsiqqohanku (kredibilitasku dalam meriwayatkan hadits), maka, bagaimana mungkin aku menjadikan diriku menjadi bahan tuduhan sebagai seorang pencuri?,” jawabnya.

Sebuah pelajaran penting. Beliau melakukan itu bukan demi nama baik, bukan pula demi harga diri, akan tetapi demi menjaga keotentikan agama, karena beliau adalah lambang dari hadits Nabi saw. Bisa dibayangkan, jika sampai beliau tertuduh sebagai pencuri, hilanglah nilai validitas hadits yang beliau kumpulkan. Demikian sikap wara para ulama, dunia tidak ada artinya bagi mereka dibandingkan ilmu hadits. Masya-Allah. Semoga kisah ini mampu memberikan inspirasi berarti bagi kita, amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas

  Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi     Judul                        : Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya Penulis                      : Dr. Muhammad Ardiansyah Editor                        : Dr. Adian Husaini Penerbit                     : Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa Depok Jumlah Halaman       : 300 Halaman   Biografi Intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas   1.    Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah seorang pemikir dan ilmuan besar kelahiran Bogor, 5 September 1931. Aya...

Resensi Buku Dahsyatnya Kekuatan Berpikir Positif

RESENSI BUKU DAHSYATNYA KEKUATAN BERPIKIR POSITIF Penulis                               : Norman Canfield                                                             Penyunting                        : Irwansyah Perancang sampul           : Pakar 55 Penata letak                        : Marissa Penerbit                               : Banana Books Tebal Hal...

Kulaih Offline Perdana Jurnalistik

Pada, 23 Oktober 2021. Berlangsung kegiatan belajar dan mengajar di Kampus IDBC Solo, Jawa Tengah. yang diajarkan oleh Ustadz Muhammad Anwar Djaelani. Pertemuan ini adalah pertemuan yang ke-10. Terasa begitu spesial karena pembelajaran dilakukan secara offline. Para Mahasantri diberikan Tugas Akhir sebagai syarat kelulusan untuk mengikuti jenjang berikutnya yakni jenjang "Techno" (skill dan kemampuan komputer, seperti desain grafis). Para Mahasantri IDBC Solo sangat antusias mengikuti dan memperhatikan materi jurnalistik dari Ustadz M. Anwar Djaelani, banyak diskusi tanya-jawab yang terjadi seputar cara menyusun kalimat yang benar dalam menulis berita/informasi di media. Goal dan harapan kami Mahasantri IDBC Solo nanti ketika lulus dapat menjadi seorang Da'i yang berkompoten juga dalam bidang Jurnalistik (karya tulis). sehingga dari tulisan mereka kelak dapat menjadi inspirator kebaikan bagi orang lain juga.