Langsung ke konten utama

Biografi BJ Habibie dan Cerita Tentangnya



Sebelum menjadi Presiden RI (1998-1999) dan berperan besar dalam transisi politik dari era Orde Baru ke masa reformasi, Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) memang lebih dulu dikenal sebagai jenius ahli teknologi pesawat.

Riwayat pendidikan Habibie sebagai insinyur bermula saat ia belajar teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB) pada 1954. Setahun kemudian, ia memilih menekuni studi spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen University, Jerman Barat.

Setelah Habibie mendapatkan gelar diplom-ingenieur pada 1960, ia melanjutkan studi selama lima tahun di RWTH Aachen University. Habibie berhasil meraih gelar doktor-ingenieur dengan predikat summa cum laude di perguruan tinggi itu, pada 1965.

Habibie dan Pesawat Buatan Indonesia 

Habibie sempat bekerja beberapa tahun di industri penerbangan Jerman. Namun, tiba-tiba Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman pada 1973 untuk menemui Habibie dan menyampaikan permintaan agar ia berkarier di Indonesia. Setahun kemudian Habibie pun pulang ke tanah air.

Ia lalu dipercaya memimpin Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (LIPNUR) yang berubah jadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada 1976. Sepuluh tahun lewat, IPTN berubah lagi menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara. Terakhir, pada tahun 2000, perusahaan ini berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Sejak Maret 1978, Soeharto juga menunjuk Habibie menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi RI. Habibie tercatat memegang posisi ini selama 20 tahun. Di bawah kendali Habibie, IPTN mengembangkan teknologi dalam membuat sejumlah pesawat, seperti CN235, N250 dan N2130. Produk IPTN paling legendaris adalah N250 (Gatotkaca) yang mengudara perdana pada 1995. Di masa itu, N250 satu-satunya pesawat turbo prob pemakai teknologi fly by wire. Namun, produksi IPTN tersendat lama usai krisis ekonomi 1997 menerpa Indonesia.

Menurut Hal Hill, dalam buku Indonesia's Industrial Transformation (1997), Habibie memakai pendekatan unik dalam pembangunan industri pesawat di Indonesia. Pengembangan tidak diawali dengan riset dasar yang berujung pada penciptaan teknologi canggih, melainkan sebaliknya.

Di kasus IPTN, RI membeli lisensi teknologi dari luar negeri dan mengembangkannya. Misalnya, pada produksi helikopter NBO 105, NAS 330 J dan pesawat NC 212. Untuk memproduksi pesawat CN235, IPTN pun tercatat bekerja sama dengan Construcciones Aeronรกuticas SA (CASA), Spanyol. Dua perusahaan itu berbagi tugas dalam produksi komponen pesawat.

Penemuan Habibie dan Apa Itu Teori Crack? 

Setelah meraih gelar doktor dari RWTH Aachen University, Habibie berkarier di industri pesawat Jerman. Sulfikar Amir, dalam buku "The Technological State in Indonesia: The Co-constitution of High Technology and Authoritarian Politics" (2013), menulis bahwa Habibie semula bekerja di Hamburger Flugzeugbau (HFB), produsen pesawat di Jerman.

Tugas utama Habibie di HFB semula melakukan riset soal konstruksi pesawat. Aktivitas tersebut membuat ulasan ilmiah Habibie kerap dimuat sejumlah jurnal prestisius. Bahkan, Habibie mengaku temuannya saat itu ada yang dipakai Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO untuk standar desain pesawat.

Sementara menurut Makmur Makka di buku "The true life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan" (2008), karier Habibie mulai menanjak setelah memecahkan masalah kestabilan kontruksi bagian belakang pesawat F28 yang diproduksi HFB bersama Fokker (Belanda).

Habibie kemudian dipercaya mendesain pesawat bersayap tetap pertama di dunia, DO-31 yang diproduksi HFB bersama Dornier. DO-31 sempat dibeli Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meski kini sudah masuk museum.

Sementara dalam tulisan Sulfikar, karier Habibie tercatat semakin meroket setelah HFB merger dengan Messerschmitt-Boelkow menjadi Messerschmitt-Bรถlkow-Blohm (MBB), pada 1969. Di MBB, Habibie terlibat perencanaan dan pembuatan pesawat Airbus A-300 B.

Saat terlibat dalam proyek prestisius ini, Habibie menemukan crack propagation theory (Teori Crack) atau teori perambatan keretakan. Penemuan Habibie itu adalah model matematika yang berguna untuk memprediksi perilaku perambatan retak di struktur pesawat hingga tingkat atom. Teori ini penting sebab di masa itu banyak kecelakaan pesawat terjadi akibat kegagalan struktural.

Pada 1950 hingga 1960-an, industri burung besi dunia berlomba membuat pesawat yang semakin besar dan cepat. Saat badan pesawat semakin besar dan geraknya bertambah cepat, kegagalan struktur sering terjadi. Ini terjadi karena setiap bahan pesawat memiliki kapasitas tertentu dalam hal kelelahan material (material fatigue).

Teori Crack temuan Habibie bermanfaat untuk menghitung dan memprediksi titik retak. Dengan begitu, sebuah materi pesawat dapat diperkuat dengan lebih presisi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas

  Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi     Judul                        : Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya Penulis                      : Dr. Muhammad Ardiansyah Editor                        : Dr. Adian Husaini Penerbit                     : Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa Depok Jumlah Halaman       : 300 Halaman   Biografi Intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas   1.    Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah seorang pemikir dan ilmuan besar kelahiran Bogor, 5 September 1931. Aya...

Resensi Buku Dahsyatnya Kekuatan Berpikir Positif

RESENSI BUKU DAHSYATNYA KEKUATAN BERPIKIR POSITIF Penulis                               : Norman Canfield                                                             Penyunting                        : Irwansyah Perancang sampul           : Pakar 55 Penata letak                        : Marissa Penerbit                               : Banana Books Tebal Hal...

Kulaih Offline Perdana Jurnalistik

Pada, 23 Oktober 2021. Berlangsung kegiatan belajar dan mengajar di Kampus IDBC Solo, Jawa Tengah. yang diajarkan oleh Ustadz Muhammad Anwar Djaelani. Pertemuan ini adalah pertemuan yang ke-10. Terasa begitu spesial karena pembelajaran dilakukan secara offline. Para Mahasantri diberikan Tugas Akhir sebagai syarat kelulusan untuk mengikuti jenjang berikutnya yakni jenjang "Techno" (skill dan kemampuan komputer, seperti desain grafis). Para Mahasantri IDBC Solo sangat antusias mengikuti dan memperhatikan materi jurnalistik dari Ustadz M. Anwar Djaelani, banyak diskusi tanya-jawab yang terjadi seputar cara menyusun kalimat yang benar dalam menulis berita/informasi di media. Goal dan harapan kami Mahasantri IDBC Solo nanti ketika lulus dapat menjadi seorang Da'i yang berkompoten juga dalam bidang Jurnalistik (karya tulis). sehingga dari tulisan mereka kelak dapat menjadi inspirator kebaikan bagi orang lain juga.